Setelah BBM nonsubsidi naik ugal-ugalan, giliran minyak goreng subsidi Minyakita bakal disesuaikan harganya. Saat ini harga Minyakita di pasaran berkisar Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu per liter. Paling murah dibandingkan minyak goring kemasan lain yang harnyanya di atas Rp 20 ribu per liter. Sejak harga migor melambung banyak konsumen beralih ke Minyakita. Rumah tangga dan usaha kecil mikro pun migrasi ke Minyakita karena selisih harganya cukup lumayan Rp 4 ribu per liter.
Sejak harga migor naik, masyarakat menengah ke bawah tidak lagi memikirkan kualitas. Alhasil, migor murah pun diserbu. Harga kebutuhan yang hampir semua naik membuat masyarakat menghitung ulang pengeluaran untuk berhemat. Tidak hanya minyak goreng yang naik tapi hampir semua barang naik harganya dipicu perang Timur Tengah.
Kenaikan harga plastik salah satu pemicu naiknya minyak goreng. Barang yang dikemas dengan plastik atau berbahan baku plastik otomatis naik. Kenaikan BBM nonsubsidi dan BBM industry April lalu juga mengerek biaya produksi dan distribusi barang. Kini ditambah lagi dengan kenaikan pertamax. Naiknya cukup tajam Rp 4.000 per liter. Entah seperti apa lagi dampaknya kepada harga-harga.
Tidak saja BBM yang tren naik tapi juga minyak goreng. Diancar-ancar naik menjadi Rp 22 ribu per liter. Sama saja dengan minyak nonsubsidi. Tidak tepat lagi dikatakan minyak subsidi karena harganya tak berbeda dengan minyak goreng nonsubsidi. Bahkan migor kualitas premium sekalipun. Jelas konsumen memilih yang kualitas bagus kalau selisih harga tipis.
Jika memang HET Minyakkita naik, tak ada lagi migor murah yang bisa dipilih untuk menghemat pengeluaran. Penjual gorengan terpaksa menambah cost atau modal agar bisa tetap bisa berjualan. Padahal margin mereka sudah tipis. Ditambah lagi lesunya penjualan karena sepi pembeli. Masyarakat tidak lagi royal belanja seperti dulu.
Ironisnya di tengah kenaikan harga barang penghasilan tidak bertambah. Masyarakat kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai karyawan swasta, buruh pabrik, buruh bangunan dan berjualan kecil-kecilan keuangannya semakin memburuk. Mereka makin terpuruk.
Sementara BBM naik, anggaran untuk MBG, Koperasi Merah Putih dan program unggulan lainnya tetap fantastis. Walau manfaatnya belum tentu sesuai harapan tapi tetap dijalankan. Malah uang rakyat dikorupsi untuk memperkaya segelintir orang. Penggantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) belum tentu memberi solusi yang baik.
Harusnya anggaran difokuskan juga untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Tunda dulu menaikkan BBM dan HET Minyakkita. Sangat disayangkan, menaikkan pertamax terkesan diam-diam. Ya, mungkin takut diprotes dan menuai kontroversi. Akhirnya mengambil jalan yang sunyi. Sama sekali tidak mempertimbangkan keberatan rakyat.
Bantuan sosial yang dijanjikan pemeritah sebagai konpensasi kenaikan BBM tidak akan bisa mengatasi persoalan. Sebab yang dapat bansos hanyalah masyarakat miskin yang terdata dalam sebagai penerima bansos. Sementara masyarakat rentan miskin dan miskin baru yang tidak terdata, tidak akan menerima bansos. Jadi sebaiknya pemerintah mendengarkan dan melihat kondisi ekonomi masyarakat secara lebih bijak sebelum mengambil kebijakan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril