Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Danantara Bentuk Holding Logistik BUMN

jpg • Kamis, 25 Juni 2026 | 08:42 WIB
Wisma Danantara Indonesia. (Wikimedia Commons, lisensi CC BY 4.0)
Wisma Danantara Indonesia. (Wikimedia Commons, lisensi CC BY 4.0)

Padek. JAWAPOS.COM -- Pemerintah melalui Danantara mulai mematangkan pembentukan holding BUMN logistik yang akan dipimpin PT Pos Indonesia (Persero). Konsolidasi tersebut diha­rapkan mampu memper­kuat posisi perusahaan pelat merah di sektor logistik sekaligus menekan tingginya biaya distribusi nasional.

Direktur Utama PT Pos Indonesia Daud Joseph me­­­ngatakan, roadmap konsolidasi diawali dengan kajian bisnis sebelum masuk ke tahap penyederhanaan struktur usaha. Saat ini terdapat sekitar 15 perusahaan logistik BUMN yang beroperasi secara terpisah dengan skala usaha yang relatif kecil.

Padahal, nilai pasar logistik nasional diperkirakan mencapai Rp 3.000 triliun. Namun kontribusi seluruh perusahaan logistik BUMN masih kurang dari 3 persen.

Akibatnya, berbagai potensi sinergi antarbisnis belum termanfaatkan secara optimal.

Menurut Joseph, masing-masing perusahaan sebenarnya memiliki keunggulan di sektor tertentu. Misalnya, PT Pos Logistik Indonesia kuat pada layanan angkutan darat, sementara entitas yang terafiliasi dengan Pelindo maupun Pelni memiliki kompetensi di sektor logistik maritim. “Potensi sinerginya besar, tetapi selama ini masih berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Pada tahap awal, seluruh perusahaan akan dikonsolidasikan ke dalam PT Multi Terminal Indonesia sebagai surviving entity. Selanjutnya, pada 2027 seluruh saham perusahaan ter­sebut direnca­nakan berada di bawah Pos Indonesia sebagai induk holding.

Joseph memperkirakan konsolidasi tersebut dapat menambah pendapatan sekitar Rp 2,38 triliun dan menghasilkan laba sekitar Rp 100 miliar pada tahun pertama operasional. Selain itu, integrasi jaringan juga di­proyeksikan meningkatkan jumlah titik layanan dari sekitar 78 lokasi menjadi 150–160 titik di seluruh Indonesia. “Anak perusahaan ini nantinya akan memiliki lini bisnis yang lengkap di seluruh Indonesia,” katanya.

Menurut Joseph, salah satu tujuan utama pembentukan holding adalah memangkas biaya logistik yang masih tinggi. Saat ini rantai distribusi barang dari pelabuhan hingga konsumen me­libatkan banyak perusahaan dengan margin keuntungan masing-masing. “Nan­tinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit marginnya hanya menjadi satu,” ujarnya.

Holding juga memungkinkan optimalisasi muatan balik (backhaul) yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Misalnya, pengiriman baja dari Cilegon ke Jawa Timur yang sering kembali tanpa muatan dapat dipadukan dengan distribusi semen dari Jawa Ti­mur ke Cilegon.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Trismawan Sanjaya menilai konsolidasi BUMN logistik me­rupakan langkah positif karena dapat mengurangi persaingan antarsesama BUMN. Namun, dia mengingatkan agar holding tidak masuk terlalu jauh ke sektor yang su­dah dikerjakan pelaku swasta. “Tantangannya adalah jika BUMN tetap mengambil bidang usaha yang sudah dilakukan swasta, maka akan semakin mempersulit daya saing industri,” katanya. (mim/dio/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#holding logistik BUMN #biaya distribusi nasional #perusahaan logistik BUMN #Danantara #pos indonesia