Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

jpg • Senin, 29 Juni 2026 | 09:15 WIB
Layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia. (DOK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi sentimen global pada pekan ini. Meski berpeluang menguat secara terbatas, tekanan dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), saham-saham teknologi berbasis AI (AI), hingga ketidakpastian geopolitik diperkirakan membuat pasar bergerak dalam fase konsolidasi.

Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.677-5.830 dan resistance 6.056-6.226.

Menurut Hans, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada saham-saham produsen chip AI di Wall Street. Valuasi yang sudah tinggi membuat sektor teknologi rentan terkoreksi apabila laporan keuangan emiten tidak mampu memenuhi ekspektasi investor. “Tekanan pada sektor teknologi juga memengaruhi pergerakan saham di bursa Eropa maupun Asia,” ujarnya, kemarin (28/6).

Dari sisi makroekonomi, pasar juga mencermati kenaikan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang mencapai 4,1 persen pada Mei. Inflasi yang masih tinggi, terutama dipicu kenaikan harga energi, dinilai membuka peluang Bank Sentral AS (Federal Reserve) kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.

“Pandangan pelaku pasar saat ini lebih mengarah pada potensi kelebihan pasokan minyak dalam waktu dekat. Ada peluang banjir pasokan sehingga harga minyak berpotensi tetap tertekan,” katanya.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih menghadapi tekanan. Selain terdampak penguatan dolar AS, inflasi domestik diperkirakan meningkat setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Sementara itu, cadangan devisa yang menyusut akibat intervensi Bank Indonesia turut menjadi faktor yang membebani rupiah.

Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, masih terdapat katalis positif bagi pasar domestik. Salah satunya keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Market, meski disertai sejumlah catatan.

Investor juga menantikan hasil penilaian Sovereign Credit Rating dari S&P Global yang dijadwalkan diumumkan pekan ini. “Hasil pemeringkatan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik,” ucapya.

Sementara itu, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 22-26 Juni 2026 ditutup di zona merah. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, IHSG terkoreksi 4,55 persen menjadi 5.896,13, dari posisi 6.177,14 pada pekan sebelumnya.

Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar BEI turun 4,51 persen menjadi Rp 10.302 triliun, dibandingkan Rp 10.788 triliun pada pekan sebelumnya. “Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 22,95 persen menjadi 1,73 juta kali transaksi,” ucapnya.

Di sisi lain, investor asing masih melanjutkan aksi jual. Pada perdagangan Jumat (26/6), investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp 537,25 miliar. Secara akumulatif sejak awal 2026, nilai jual bersih investor asing telah mencapai Rp 71,68 triliun. (mim/dio/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#ihsg menguat #indeks harga saham gabungan