
DIABETES melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. DM merupakan kondisi ketika kadar gula darah tinggi dalam waktu lama (hiperglikemia kronis).
Apabila kondisi ini dibiarkan terus-menerus, maka dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengganggu kualitas hidup penderitanya, seperti gangguan pada ginjal, gangguan saraf, gangguan penglihatan pada mata, risiko tinggi mengalami stroke dan penyakit jantung serta penyakit pada pembuluh darah arteri.
DM disebabkan oleh terganggunya kerja hormon insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas. Hormon ini berperan mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Apabila sensitivitas atau produksi hormon insulin ini terganggu, maka kadar gula darah menjadi tinggi, namun sel-sel dalam tubuh tetap mengalami kelaparan.
Sehingga, penderita dapat merasakan gejala-gejala, seperti sering merasa lapar meskipun sudah banyak makan, berat badan menurun, sering buang air kecil, mudah mengantuk, rasa kebas di tangan atau kaki dan luka terbuka yang sulit kering serta sembuh.
Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2025, jumlah pasien yang menderita DM di Indonesia sebanyak 20,4 juta orang, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada tahun 2050. Indonesia merupakan negara peringkat nomor 5 tertinggi dunia penderita Diabetes pada orang dewasa.
Ikatan Dokter Indonesia juga mengeluarkan data penelitian pada Januari 2023 bahwa prevalensi kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat dari sebelumnya.
Peningkatan prevalensi DM pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda merupakan realitas global yang perlu menjadi perhatian. Selain adanya faktor genetik, penyakit DM dapat terjadi akibat adanya pergeseran pola makan dari makanan alami menjadi makanan siap saji yang mudah ditemui dan dikonsumsi oleh anak serta remaja saat ini.
Selain itu, tren masyarakat muda sekarang juga cenderung mengonsumsi makanan olahan yang mengandung tinggi gula, lemak trans, dan garam. Gaya hidup ini semakin diperparah dengan minimnya aktivitas fisik akibat gaya hidup sedentari pada masyarakat yang didominasi oleh pemakaian gadget serta paparan stres yang berkelanjutan.
Kombinasi faktor-faktor tersebut sangat mudah mengantarkan anak, remaja dan dewasa muda untuk mengalami kejadian resistensi insulin dan akhirnya menderita penyakit DM.
Dampak yang ditimbulkan dari DM adalah terjadi penurunan kualitas hidup penderita, peningkatan beban perawatan bagi keluarga, dan peningkatan pengeluaran biaya kesehatan oleh negara. Hal ini dapat menurunkan produktivitas nasional karena berkurangnya masyarakat yang produktif. Sehingga DM bukan saja menjadi penyakit individu, namun juga menjadi beban ekonomi yang besar bagi negara.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




