Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Generasi Pecinta Gula dan Bayang-bayang Diabetes

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
dr. Cynthia Agustini, M.Biomed
dr. Cynthia Agustini, M.Biomed

Advertisement

DIABETES melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ba­nyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ga­ya hidup dan pola makan yang tidak sehat. DM merupakan kondisi ketika kadar gula darah ti­nggi dalam waktu lama (hiperglikemia kronis).

Apabila kondisi ini dibiarkan terus-mene­rus, maka dapat menyebabkan berbagai kom­plikasi yang mengganggu kualitas hidup pende­ritanya, seperti gangguan pada ginjal, gangguan saraf, gangguan pe­nglihatan pada mata, risiko tinggi mengalami stroke dan penya­kit jantung serta penyakit pada pembuluh darah arteri.

DM disebabkan oleh terganggunya kerja hormon insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas. Hormon ini berperan mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Apabila sensitivitas atau produksi hormon insulin ini terganggu, maka kadar gula darah menjadi tinggi, namun sel-sel dalam tubuh tetap mengalami kelaparan.

Advertisement

Sehingga, penderita dapat merasakan gejala-gejala, seperti sering merasa lapar mes­kipun sudah banyak makan, berat badan menurun, sering buang air kecil, mudah me­ngantuk, rasa kebas di tangan atau kaki dan luka terbuka yang sulit kering serta sembuh.

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2025, jumlah pa­sien ya­ng menderita DM di Indonesia sebanyak 20,4 ju­ta orang, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada tahun 2050. Indonesia merupakan negara pering­kat nomor 5 terti­nggi dunia penderita Diabetes pada orang dewasa.

Ikatan Dokter Indonesia juga mengeluarkan data penelitian pada Januari 2023 bahwa prevalensi kasus diabetes pada anak me­ningkat 70 kali lipat dari sebelumnya.

Advertisement

Peningkatan prevalensi DM pa­da anak-anak, remaja, dan de­wasa muda merupakan rea­litas global yang perlu menjadi per­hatian. Selain adanya faktor ge­netik, penyakit DM dapat terja­di akibat adanya per­geseran pola makan dari makanan alami menjadi makanan siap saji yang mudah ditemui dan dikonsumsi oleh anak serta remaja saat ini.

Selain itu, tren masyarakat muda sekarang juga cenderung mengonsumsi makanan olahan yang mengandung tinggi gula, lemak trans, dan garam. Gaya hidup ini semakin diperparah dengan minimnya aktivitas fisik akibat gaya hidup sedentari pada masyarakat yang didominasi oleh pemakaian gadget serta paparan stres yang berkelanjutan.

Kombinasi faktor-faktor tersebut sangat mudah mengantarkan anak, remaja dan dewasa muda untuk mengalami kejadian resistensi insulin dan akhirnya menderita penyakit DM.

Dampak yang ditimbulkan dari DM adalah terjadi penurunan kualitas hidup penderita, peningkatan beban perawatan bagi keluarga, dan peningkatan pengeluaran biaya kesehatan oleh negara. Hal ini dapat menurunkan produktivitas nasional karena berkurangnya masyarakat yang produktif. Sehingga DM bukan saja menjadi penyakit individu, namun juga menjadi beban eko­nomi yang besar bagi negara.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rakor Kesehatan Pariaman Bahas TBC, Malaria hingga Rendahnya Skrining Kanker Serviks

Rakor Kesehatan Pariaman Bahas TBC, Malaria hingga Rendahnya Skrining Kanker Serviks

Pemko Pariaman membahas TBC, malaria, KLB, imunisasi, dan skrining kanker serviks dalam Rakor Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2026.

Saat Tubuh Berteriak Lewat Burnout

Saat Tubuh Berteriak Lewat Burnout

DI tengah kehidupan yang terus berpacu dengan waktu, burnout menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin banyak dialami masyarakat.

Vitamin A, Pendekar Tubuh

Vitamin A, Pendekar Tubuh

VITAMIN A dikenal sebagai salah satu zat gizi penting yang berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer