
PADEK.JAWAPOS.COM – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp4,41 triliun sepanjang Januari–September 2026, meningkat 216,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun. Kenaikan tersebut ditopang penguatan harga jual batu bara, pertumbuhan pendapatan, dan pengendalian beban pokok pendapatan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, pendapatan usaha PTBA mencapai Rp35,20 triliun, naik sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp7,19 triliun, dengan margin laba bersih 13 persen dan margin EBITDA 20 persen.
Pertumbuhan pendapatan terutama didorong kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 18 persen secara tahunan (year on year/YoY). Penguatan tersebut sejalan dengan kenaikan indeks harga batu bara Newcastle sebesar 25 persen dan ICI-3 sebesar 26 persen.
Kenaikan harga jual mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4 persen dibandingkan Januari–September 2025.
Dari sisi pasar, penjualan domestik menyumbang 52 persen terhadap total volume penjualan, sedangkan pasar ekspor berkontribusi 48 persen. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Produksi Pulih pada Kuartal III
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, perusahaan mencatatkan perbaikan kinerja operasional pada kuartal III 2026 di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun berjalan.
“Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin,” kata Bambang dalam keterangan perusahaan, Kamis (29/10/2026).
Secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ), produksi batu bara meningkat 17 persen dibandingkan kuartal II 2026. Penjualan tumbuh 2 persen, sementara ASP naik 7 persen.
Beban Pokok Pendapatan Naik Tipis
PTBA mencatatkan beban pokok pendapatan sekitar Rp27,94 triliun hingga September 2026, meningkat sekitar 1 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga bahan bakar yang meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tekanan biaya tersebut diimbangi penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Volume produksi turun 4 persen, sedangkan volume angkutan batu bara berkurang 10 persen secara tahunan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





