Disajikan dengan dengan santan dan roti, pisang panggang ini memiliki porsi yang tidak terlalu besar. Santan yang kental dan roti yang renyah berpadu dengan pisang yang memiliki aroma khas karena dipanggang, makanan legend ini tentu tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bukittinggi.
Di kedai HM Zen yang terletak di Pasar Atas, Kota Bukittinggi, satu porsi pisang panggang dijual dengan harga Rp 10 ribu. Harga ini tentu bisa dikategorikan terjangkau bagi semua kalangan.
“Sejak 1965, kedai ini telah dijalankan oleh tiga generasi,” ujar Hanafi, pengelola kedai yang juga merupakan cucu dari HM Zen pendiri awal kedai saat kami wawancarai di lokasi tersebut, Kamis (21/12).
Ia menyebutkan, originalitas dan penggunaan bahan alami, merupakan kunci utama untuk membuat kedainya terus bisa bertahan hingga saat ini.
“Kita mengolah bahan sesuai dengan cara yang pernah diajarkan oleh kakek kami. Kita tetap original tetap mempertahankan ciri khas, dan itulah yang menjadi alasan kita terus bisa bertahan sejak 1965 hingga sekarang,” tambahnya.
Hanafi yang telah mengelola kedai ini sejak tahun 1990 menyebutkan bahwa dalam pemilihan pisang yang menjadi bahan utama pisang panggang dilakukan dengan berbagai pertimbangan.
“Kita mengunakan jenis pisang gadang untuk bahan utama. Pemilihan pisang tentu sangat kita perhatikan. Mulai dari tingkat kematangan hingga daerah dimana pisang itu tumbuh,” ucapnya.
Hanafi juga menambahkan untuk di sekitaran Bukittinggi pisang terbaik tumbuh di sekitar daerah Gaduik, Kabupaten Agam. “Saat ini disana sudah tidak banyak petani menanam pisang. Jadi untuk bahan kita mengambil di daerah sekitaran Ngarai Sianok dan itu dipilih dengan sangat hati-hati,” ungkapnya.
Untuk proses pembuatan pisang panggang itu sendiri, Hanafi menyebutkan ia masih menggunakan cara yang tradisional seperti yang diajarkan oleh kakeknya.
“Karena disajikan dengan santan, banyak yang menyangka kalau pisangnya dikolak. Padahal bukan, pisang itu dipanggang, dipanggang dengan kulitnya lalu setelah masak, baru dikupas dan disajikan dengan santan,” sebtunya. (r) Editor : Novitri Selvia