Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Embun, Bocah 8 Tahun Korban Banjir Bandang Padang yang Menjuarai Lomba Mewarnai di Pengungsian

Heri Sugiarto • Minggu, 7 Desember 2025 | 13:02 WIB

Embun, bocah 8 tahun korban banjir bandang Cupak Tangah, memperlihatkan hasil gambar yang mengantarkannya menjadi juara lomba mewarnai di pengungsian SD 02.(Foto: Charlie/ Diskominfo Padang)
Embun, bocah 8 tahun korban banjir bandang Cupak Tangah, memperlihatkan hasil gambar yang mengantarkannya menjadi juara lomba mewarnai di pengungsian SD 02.(Foto: Charlie/ Diskominfo Padang)
PADEK.JAWAPOS.COM-Embun, seorang anak kelas dua SD Bustanul Ulum, menjadi perhatian di pengungsian SD 02 Cupak Tangah, Pauh, Kota Padang, setelah menjuarai lomba mewarnai yang digelar di lokasi tersebut, Jumat (5/12/2025).

Meski baru saja kehilangan rumah akibat banjir bandang, bocah berusia 8 tahun ini tampil ceria dan aktif mengikuti kegiatan psikososial bagi anak-anak di pengungsian.

Banjir bandang yang melanda Cupak Tangah pada Jumat (28/11/2025) lalu, telah menghanyutkan tempat tinggalnya.

“Rumah sudah hilang dibawa banjir, kini hanya tersisa lantainya saja,” ungkap Embun saat ditemui Tim Diskominfo Padang Charlie, di pengungsian.

Kini Embun tinggal bersama orang tuanya tanpa kepastian ke mana akan pergi setelah masa pengungsian berakhir.

Embun dikenal sebagai anak yang cerdas dan komunikatif. Sebelum bencana terjadi, sepulang sekolah, ia sering membantu orang tuanya mencari nafkah dengan mengamen bersama ayahnya di kawasan Pasar Baru.

Mereka biasanya bernyanyi dari rumah ke rumah atau mendatangi kendaraan umum yang sedang berhenti. Namun, aktivitas itu kini terhenti karena ia harus tetap berada di lokasi pengungsian.

Keceriaan Embun kembali terlihat saat Ketua TP-PKK Kota Padang Dian Dian Puspita Fadly Amran mengunjungi pengungsian tersebut.

Dalam kunjungan itu, TP-PKK membagikan crayon dan kertas gambar untuk menghibur anak-anak yang terdampak.

Embun tampak antusias ketika menerima perlengkapan tersebut. Ia memilih gambar rumah di pinggir sungai untuk diwarnai. “Saya rindu rumah,” ucapnya sambil mewarnai dengan serius.

Dari puluhan anak yang ikut serta, gambar Embun dinilai paling menarik. Rumah pada gambar itu diberinya warna pink, dengan sapuan warna yang rapi dan merata.

Ketelatenannya membuat pengurus TP-PKK Kota Padang, Mayesti, menetapkannya sebagai juara pertama. “Embun cukup telaten mewarnai, karena itu ibu Ketua PKK menetapkan Embun sebagai juara pertama,” ujar Mayesti.

Kemenangan itu membuat Embun tampak bahagia. Sambil memeluk erat gambar yang sudah ia warnai, raut wajahnya menunjukkan rasa bangga sekaligus kerinduan terhadap rumah yang telah hilang tersapu banjir.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah musibah, anak-anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan dukungan emosional.

Kisah Embun mencerminkan kondisi anak-anak terdampak bencana yang tetap berusaha ceria meski berada dalam situasi sulit.

Kegiatan seperti lomba mewarnai menjadi upaya penting untuk memulihkan kondisi psikologis mereka.

Di pengungsian, Embun dan anak-anak lainnya masih menanti kejelasan tentang masa depan mereka setelah bencana yang menghancurkan pemukiman di Cupak Tangah.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Banjir Bandang Padang #Cupak Tangah Pauh #juara lomba mewarnai di pengungsian #embun #korban banjir bandang