
Oleh: Timtim Deby Purnasebta, Praktisi GIS Sumatera Barat
PADEK.JAWAPOS.COM-Setiap kali galodo menerjang Lembah Anai, Sumatera Barat kembali diingatkan pada satu kenyataan: mobilitas jutaan penduduk masih sangat bergantung pada satu koridor transportasi utama.
Ketika jalan terputus akibat banjir bandang, longsor, atau kerusakan infrastruktur, konektivitas antarwilayah ikut terganggu, distribusi logistik melambat, sektor pariwisata terpukul, dan aktivitas ekonomi ikut terdampak.
Karena itu, wacana reaktivasi kereta api di Sumatera Barat seharusnya tidak lagi dipandang sekadar sebagai upaya menghidupkan kembali jalur rel peninggalan masa lalu.
Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk membangun sistem transportasi yang lebih terintegrasi, tangguh terhadap bencana, dan mampu menjadi penggerak baru ekonomi serta pariwisata Sumatera Barat di masa depan.
Dalam beberapa waktu terakhir, pembahasan mengenai reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat kembali menguat. Wacana tersebut telah dibahas di tingkat pemerintah pusat, DPR RI, pemerintah daerah, hingga PT Kereta Api Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa reaktivasi kereta api tidak lagi sekadar menjadi nostalgia sejarah transportasi, melainkan mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pembangunan wilayah dan peningkatan konektivitas daerah.
Sebagai praktisi GIS yang intens mengamati isu kebencanaan dan tata ruang di Sumatera Barat, saya memandang reaktivasi kereta api merupakan langkah yang layak didukung.
Kehadiran moda transportasi berbasis rel dapat menjadi alternatif transportasi yang lebih beragam, mengurangi ketergantungan pada jalan raya, serta memperkuat integrasi antarwilayah di Sumatera Barat.
Di era modern, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan mengintegrasikan berbagai moda transportasi secara efektif.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





