Udara dingin langsung menyergap begitu kaki menjejak Thaif pada awal Desember 2025. Angka di termometer menunjukkan sekitar delapan derajat Celsius, suhu yang terasa ganjil untuk sebuah kota di Arab Saudi.
Jaket pun segera dirapatkan. Di tengah perjalanan umroh perdana yang sarat ritual dan doa, Thaif hadir dengan wajah berbeda: sunyi, sejuk, dan memberi jeda bagi batin.
Perjalananku menuju Thaif ditempuh sekitar satu jam 45 menit dari Makkah. Bus melaju perlahan meninggalkan dataran rendah yang panas, menanjak melalui jalan berkelok di Pegunungan Al-Hada.
Semakin tinggi, hawa kian dingin. Gurun berangsur tergantikan oleh lereng-lereng hijau dan kabut tipis yang menyelimuti lembah.
Secara geografis, Thaif berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.
Letak inilah yang menjadikannya dikenal sebagai “Kota Musim Panas” Arab Saudi. Saat kota-kota lain dilanda panas ekstrem, Thaif justru menawarkan suhu yang bersahabat.
Pada musim dingin, seperti Desember, pagi dan malam terasa menggigit, sementara siang hari tetap nyaman.
Pegunungan menjadi lanskap utama kota ini. Dari Jabal Daka hingga kawasan Al-Hada, pandangan mata disuguhi bentangan alam yang jarang diasosiasikan dengan Jazirah Arab.
Lembah-lembah terbuka luas, sesekali tertutup kabut. Kereta gantung yang melintas di atas jurang menjadi penghubung antara satu sisi pegunungan dan sisi lainnya sekaligus penanda bahwa Thaif juga membuka diri bagi wisata.
Ketika hujan turun, wajah Thaif berubah semakin hidup. Air terjun musiman mengalir di celah-celah tebing, menambah kesan segar.
Kebun-kebun mawar, yang menjadikan kota ini tersohor hingga mancanegara, menebarkan aroma lembut.
Dari bunga-bunga inilah minyak mawar diekstraksi, menjadi salah satu produk unggulan Thaif.
Namun Thaif bukan hanya soal iklim dan panorama. Kota ini memiliki kedalaman sejarah yang penting dalam perjalanan Islam.
Di sinilah Rasulullah SAW pernah datang pada masa awal dakwah, berharap menemukan perlindungan dan dukungan setelah tekanan di Makkah semakin berat.
Harapan itu tak terwujud, tetapi dari Thaif lahir pelajaran besar tentang ketabahan.
Jejak peristiwa itu terasa kuat ketika berdiri di tanah Thaif hari ini. Angin dingin yang berembus seolah membawa ingatan akan langkah-langkah penuh luka, tetapi juga doa dan pengharapan.
Rasulullah SAW meninggalkan kota ini bukan dengan kutukan, melainkan dengan doa—sebuah teladan tentang kasih dan kesabaran.
Bagi jamaah umroh, Thaif sering menjadi persinggahan setelah rangkaian ibadah di Makkah.
Jika Makkah menghadirkan keramaian dan kekhusyukan yang intens, Thaif menawarkan keheningan.
Alamnya seolah memberi ruang untuk merenung, menata kembali perasaan setelah hiruk-pikuk di Tanah Suci.
Di tengah udara dingin pegunungan, refleksi menjadi lebih jernih. Betapa perjalanan iman tidak selalu lurus dan nyaman.
Sejarah Thaif mengajarkan bahwa ujian bisa datang justru setelah niat baik ditunaikan. Namun dari sanalah keteguhan tumbuh, dan keyakinan diperkokoh.
Thaif di bulan Desember bukan sekadar destinasi tambahan dalam agenda umroh. Ia adalah perjumpaan dengan alam yang meneduhkan dan sejarah yang menggugah.
Dingin yang menyentuh kulit justru menghadirkan kehangatan di hati, tentang perjuangan, kesabaran, dan harapan yang terus hidup dalam perjalanan iman manusia.(***)
Editor : Hendra Efison