Ungkapan seperti “AI lebih mengerti aku” mulai sering terdengar dari anak muda, terutama mereka yang merasa kesulitan menemukan ruang aman untuk bercerita di dunia nyata.
Meningkatnya ketergantungan Gen Z terhadap AI untuk keperluan emosional tidak terjadi tanpa alasan. Laporan WHO Youth Wellbeing Report 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen anak muda di Indonesia mengaku merasa kesepian, meskipun sangat aktif menggunakan media sosial.
Kondisi ini disebut sebagai loneliness paradox, di mana semakin tinggi keterhubungan digital, semakin rendah koneksi emosional yang dirasakan.
Fenomena ini turut diperkuat oleh laporan CNA.id yang mengungkapkan bahwa lebih dari 1 juta pengguna ChatGPT setiap minggu berbicara tentang “mengakhiri hidup” atau mengekspresikan niat bunuh diri.
Angka ini menggambarkan tingginya jumlah individu yang mencari dukungan emosional melalui AI, terutama saat dilanda stres, depresi, atau keputusasaan.
AI Jadi Tempat Curhat, Tapi Bukan Terapis
Meski mampu memberikan jawaban cepat, empatik, dan terstruktur, para ahli menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan profesional kesehatan mental.
Sistem AI tidak memiliki kemampuan diagnosis, tidak memahami konteks secara penuh, dan tidak dapat memberikan intervensi klinis.
Kondisi ini berisiko membuat anak muda semakin bergantung pada teknologi dan tidak mencari bantuan nyata saat menghadapi krisis.
Pakar kesehatan mental mengingatkan bahwa percakapan yang melibatkan ide bunuh diri harus ditangani oleh terapis, psikolog, atau tenaga medis yang kompeten.
Mengapa Gen Z Mencari Ruang Curhat Alternatif?
Beberapa faktor yang mendorong Gen Z memilih AI sebagai tempat curhat antara lain:
- Merasa takut dihakimi ketika berbicara dengan orang terdekat.
- Merasa lebih nyaman mengekspresikan emosi melalui teks.
- AI tersedia 24 jam dan memberikan respons instan.
- Kurangnya akses layanan kesehatan mental yang terjangkau.
Fenomena ini mengindikasikan perlunya perhatian dan dukungan sosial yang lebih kuat bagi anak muda.
Cara Mengurangi Stres Secara Sehat
Psikolog menyebutkan stres mental sering muncul ketika tubuh dan pikiran tidak berada dalam kondisi seimbang. Agar emosi tidak menumpuk, sejumlah kebiasaan sederhana dapat dilakukan setiap hari, antara lain:
- Olahraga ringan 30 menit per hari untuk melepaskan hormon endorfin.
- Tidur cukup 7–8 jam untuk menjaga stabilitas mood.
- Mengonsumsi makanan bergizi untuk mendukung fungsi otak.
- Mengurangi scrolling malam, yang sering memicu kecemasan dan overthinking.
- Bersosialisasi positif dengan teman atau keluarga.
- Melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran dan menstabilkan emosi.
Kesehatan mental tidak dapat mengandalkan satu solusi saja. Keterlibatan sosial, kebiasaan hidup sehat, serta dukungan profesional tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesejahteraan emosional. (*)
Editor : Adetio Purtama