Mereka hanya ingin mengisi waktu dengan bermain musik dan membentuk band secara iseng. Proses awalnya pun sederhana, dimulai dengan mencari personel yang bisa memainkan gitar, bass, dan drum, meskipun seluruh pemain hanya menguasai kemampuan dasar dari masing-masing instrumen.
Surfive terbentuk pada awal tahun 2024. Di fase awal, band ini hanya memainkan lagu-lagu cover tanpa konsep genre yang benar-benar matang. Namun, dari aktivitas iseng tersebut, kelima personel merasa menemukan keseruan yang sama dan sepakat untuk melanjutkan Surfive sebagai sebuah band yang lebih serius.
Dalam perjalanannya, Surfive sempat mengalami beberapa kali pergantian personel. Hingga saat ini, formasi yang aktif terdiri dari Frengki (gitar sekaligus vokal), Jamal (gitar), Zaki (vokal), Rendi (bass), dan Muzi (drum). Selain personel inti, Surfive juga diperkuat oleh Fadhil yang bertanggung jawab di bidang kreatif, serta Mumuy yang mengelola manajemen band.
Nama Surfive dipilih dengan filosofi yang cukup kuat. Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris survive yang berarti bertahan hidup. Namun, penulisan diubah menjadi “Surfive” dengan memasukkan unsur five atau angka lima, yang merepresentasikan lima orang pemuda di dalam band.
Filosofi ini menggambarkan semangat lima personel Surfive yang siap bertahan hidup dalam berbagai situasi, keadaan, dan kondisi. Identitas tersebut kemudian dipertegas dengan simbol lima jari yang menjadi ciri khas mereka.
Dalam urusan genre, Surfive kini mantap mengusung punk sebagai identitas musikal. Menariknya, pada awal berdiri Surfive justru memainkan musik pop. Seiring berjalannya waktu, para personel mulai merasakan kejenuhan dan memutuskan untuk mencoba genre lain.
Eksplorasi tersebut membawa mereka ke musik punk, yang justru memberikan gairah baru dan energi berbeda saat dimainkan.
Pengaruh musikal Surfive datang dari berbagai arah, salah satunya band asal Sumatera Barat, The Kura-Kura. Band tersebut dinilai memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap Surfive, baik dari segi gaya bermusik, cara berkarya, hingga semangat dalam membangun identitas band.
Hingga kini, pengaruh tersebut masih terasa, bahkan Surfive kerap membawakan lagu-lagu The Kura-Kura dalam penampilan mereka.
Meski telah aktif tampil di berbagai panggung, Surfive hingga saat ini belum merilis karya resmi di platform musik digital. Namun demikian, mereka telah menciptakan sejumlah lagu yang masih berada dalam tahap demo.
Proses penciptaan lagu Surfive berangkat dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman pribadi para personel hingga cerita-cerita yang mereka temui di lingkungan sekitar.
Sebagai band yang seluruh personelnya berstatus mahasiswa, tantangan utama yang dihadapi Surfive adalah membagi waktu antara kewajiban akademik dan aktivitas bermusik.
Di sisi lain, tantangan terbesar di skena musik Sumatera Barat menurut mereka adalah menjaga konsistensi. Tanpa konsistensi, peluang untuk mendapatkan panggung dan eksistensi di dunia musik menjadi semakin sulit.
Soal pengalaman manggung, Surfive menilai setiap panggung memiliki kesan tersendiri. Perbedaan biasanya hanya terletak pada pelayanan liaison officer (LO).
Namun, salah satu penampilan yang paling membekas bagi mereka adalah saat tampil di ISI Padangpanjang. Kondisi udara yang dingin menjadi pengalaman tak terlupakan, karena para personel harus bermain sambil menahan rasa kedinginan.
Menanggapi perkembangan teknologi, Surfive menilai kehadiran platform digital sangat membantu musisi, khususnya musisi independen. Melalui Spotify, YouTube, Instagram, hingga TikTok, karya musik dapat langsung didengar tanpa harus bergantung pada label besar.
Tantangan yang tersisa adalah bagaimana musisi bisa konsisten membuat konten dan memahami cara kerja algoritma media sosial.
Terkait rilisan fisik seperti kaset atau piringan hitam, Surfive menilai format tersebut masih memiliki nilai dan tetap layak dipertahankan. Meski tidak lagi menjadi fokus utama penjualan massal, rilisan fisik dinilai memiliki nilai emosional dan eksklusivitas tersendiri, terutama bagi kolektor dan penggemar loyal. Bagi Surfive, rilisan fisik lebih berfungsi sebagai pelengkap dari rilisan digital.
Melihat kondisi gigs dan skena musik di Sumatera Barat, Surfive menilai perkembangannya cukup positif. Ruang bagi musisi lokal untuk tampil sudah mulai terbuka, meski masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, seperti soal honor, fasilitas, dan promosi. Namun secara umum, mereka menilai kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Surfive juga melihat Sumatera Barat sebagai daerah dengan potensi musik yang besar dan talenta yang beragam. Menurut mereka, kunci pengembangan skena musik terletak pada saling mendukung, kolaborasi, serta konsistensi antar pelaku skena.
Untuk bisa menembus pasar nasional, Surfive menilai musisi Sumbar perlu memiliki konsistensi, identitas yang kuat, serta mental yang tahan banting. Literasi digital, jejaring, dan keberanian keluar dari zona nyaman juga menjadi faktor penting, sebagaimana yang dilakukan sejumlah band baru dengan identitas unik.
Ke depan, Surfive berharap dunia musik di Sumatera Barat dapat tumbuh menjadi ekosistem yang sehat, dengan dukungan antar musisi, event organizer, media, dan penikmat musik. Mereka berharap semakin banyak panggung, kolaborasi, serta karya lokal yang dikenal lebih luas, tidak hanya di daerah sendiri. Saat ini, Surfive juga tengah menyiapkan mini album yang direncanakan akan dirilis dalam waktu mendatang. (adt)
Editor : Adetio Purtama