Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pascabanjir Bandang Aceh, Listrik Padam di Langsa dan Layanan Kesehatan Darurat di Aceh Tamiang

Novitri Selvia • Rabu, 17 Desember 2025 | 10:48 WIB

TETAP MELAYANI: Puskesmas Karangbaru, Acehtamiang, kemarin (16/12).
TETAP MELAYANI: Puskesmas Karangbaru, Acehtamiang, kemarin (16/12).

PADEK.JAWAPOS.COM-BEBERAPA sudut Kota Langsa, Aceh, masih terpendam lumpur akibat banjir bandang. Namun, sejumlah pertokoan, minimarket, warung kopi, bahkan tempat cuci kendaraan telah beroperasi meski listrik padam sejak Selasa (9/12) pekan lalu.

“Ya, tertentu saja yang berjualan, tidak semua jenis. Tapi seperti kami ini, warung kopi (warkop), juga minimarket atau yang punya genset saja, karena listrik mati,” kata Jumadil, warga Gampong Birem Puntong, Langsa, kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) kemarin (16/12).

Padamnya listrik juga membuat usaha Jumadil lainnya, laundry, sulit berjalan. Sebab, usaha itu hanya bisa berjalan dengan listrik dan air melimpah.

“Saya genset hanya punya satu, jadi ya kami sesuaikan. Sehari saja untuk isi ulang air mineral bisa sampai 500 galon,” ungkapnya. Listrik mati total sejak Selasa (9/12).

Dari informasi yang dia dengar, ada sinkronisasi jaringan di kawasannya. “Waktu banjir akhir November lalu sempat mati beberapa jam saja, tapi dominan menyala. Kalau sekarang padam semua,” jelasnya.

Dampak banjir bandang di Kota Langsa secara umum tidak separah Aceh Tamiang dan sejumlah kawasan lain di Aceh. Tinggi air, kata Jumadil, memang sempat sampai sedada, tetapi dua hari kemudian surut.

Yang paling dikeluhkan warga adalah listrik. Saat malam tiba, seperti yang dirasakan Jawa Pos kemarin, kegelapan mendominasi.

Sebagian besar ruas jalan dan permukiman di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Birem Puntong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, misalnya, tanpa penerangan. Hanya bangunan yang memiliki genset yang lampunya menyala.

“Katanya malam ini (tadi malam) mau dites listriknya. Tapi, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda,” ungkap Dimas, salah seorang warga Birem Puntong, kepada Jawa Pos yang menemuinya tadi malam sekitar pukul 19.00.

Nazar, warga Langsa lainnya, menyebut, empat hari setelah banjir besar pada 25 November lalu, listrik hidup-mati sebelum kemudian mati total sejak 9 Desember.

Untuk mengisi daya ponsel atau keperluan lainnya, dia harus pergi ke masjid atau warung kopi. Menurutnya, kondisi saat ini lebih parah daripada tsunami 2004. Sebab, selain dampaknya jauh lebih luas, juga melumpuhkan titik-titik vital.

Bau Lumpur Campur Bangkai

Puskesmas Karangbaru, Aceh Tamiang, belum sepenuhnya pulih. Bau lumpur bercampur bangkai binatang samar-samar tercium di udara. Tanah bercampur pasir menutupi sebagian jalan masuk.

Dinding bangunan masih lembap, dan tumpukan perabot berlumut menjadi saksi betapa derasnya air yang menerjang beberapa hari lalu.

Karangbaru merupakan kecamatan yang menjadi ibu Kota Acehtamiang. Akses menuju puskesmas juga terhalang rumah kayu yang hanyut diterjang banjir.

Namun, di tengah suasana itu, aktivitas pelayanan kesehatan kembali hidup meski seadanya dan diselingi dengan pembersihan ruangan.

Seperti disaksikan Jawa Pos kemarin sebelum bergerak ke Kota Langsa, bagian depan puskesmas yang semula difungsikan sebagai kantin kini berubah wajah.

Meja kayu panjang disusun menjadi meja pemeriksaan dan kursi plastik berderet untuk pasien. Ruangan terbuka itu kini menjadi pusat layanan kesehatan sementara bagi warga Karang Baru dan sekitarnya.

“Ini saja yang mudah dibersihkan. Sejak awal kami layani di sini karena ruangan utama masih berlumpur dan banyak peralatan yang rusak,” tutur Kepala Puskesmas Karang Baru Aceh Tamiang Lena Amrina kemarin.

Tim medis dibantu tenaga dari berbagai pihak. Mulai dari Ikatan Dokter Indonesia Aceh, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang, hingga personel TNI dan Polri yang turut membantu membersihkan area puskesmas dan membuka akses jalan.

Menurut Lena, dampak banjir kali ini tidak hanya merusak gedung utama, tetapi juga melumpuhkan sarana vital seperti listrik dan genset. “Kami ada genset, tapi rusak karena lumpur. Jadi, untuk sementara kami pakai bantuan genset dari IDI Aceh,” imbuhnya.

Selain di puskesmas, pelayanan kesehatan juga dibuka di beberapa titik lain, seperti di Kantor Kecamatan Karang Baru dan rumah salah satu dokter puskesmas Cut Nazmiati, yang tetap melayani warga di sekitar tempat tinggalnya.

“Para bidan desa juga tetap berkeliling ke titik-titik pengungsian untuk memberikan pertolongan dasar,” paparnya.

Dia mengungkapkan, ada sekitar 600an bayi, batita (bayi di bawah tiga tahun), dan balita (bayi di bawah lima tahun) yang masuk dalam pemantauan puskesmas.

Jumlah itu berasal dari 18 desa di wilayah kerjanya. “Kami lakukan semua itu untuk pemenuhan dan asupan gizi di masa penanggulangan bencana ini,” katanya.

Dari total 105 tenaga kesehatan, termasuk dokter, di Aceh Tamiang, hampir semuanya terdampak secara pribadi.

“Rumah mereka sebagian besar rusak, tetapi pelayanan tetap kami jalankan. Seadanya, semampu kami, dan sebisa kami,” jelasnya. (zam/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#listrik padam #banjir bandang #Langsa aceh #genset