Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Minyak Dunia Tembus USD118 per Barel, Pemerintah Jadikan Momentum Percepat Energi Terbarukan

Novitri Selvia • Rabu, 11 Maret 2026 | 12:41 WIB

BERLAYAR: Burung-burung terbang di dekat sebuah kapal di Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3) lalu.
BERLAYAR: Burung-burung terbang di dekat sebuah kapal di Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3) lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM--LONJAKAN harga minyak dunia di tengah konflik geopolitik justru dilihat pemerintah sebagai peluang.

Kenaikan harga energi fosil dinilai bisa menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju energi bersih di Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, volatilitas harga minyak menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional tidak dapat hanya bergantung pada satu sumber energi.

“Ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT),” ujar Anggia di Jakarta kemarin (9/3).

Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak mentah global memang melonjak signifikan. Minyak jenis Brent crude oil sempat menembus USD 118 per barel, level tertinggi sejak 17 Juni 2022.

Angka tersebut jauh melampaui rata-rata harga pada Januari 2026. Saat itu, Brent berada di kisaran USD 64 per barel.

Menurut Anggia, kondisi geopolitik global menjadi sinyal bahwa sistem energi nasional perlu diperkuat melalui diversifikasi sumber energi. Karena itu, pemerintah mempercepat pengembangan berbagai energi bersih.

Program yang diprioritaskan antara lain pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pemanfaatan bioenergi.

Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

Salah satu skenario yang disiapkan adalah pengalihan sumber impor minyak dari kawasan Timur Tengah ke negara lain yang tidak melalui jalur Selat Hormuz.

Meski memicu tekanan biaya energi, lonjakan harga minyak juga memberikan dampak positif terhadap penerimaan negara.

“Di tengah dinamika harga minyak global, kondisi ini juga berdampak positif bagi PNBP (penerimaan negara bukan pajak) sektor migas, karena Indonesia masih memiliki produksi domestik di atas 600 ribu barel per hari,” jelas Anggia.

Namun, kalangan pengamat mengingatkan bahwa proses transisi energi tidak dapat dilakukan secara instan.

Pengamat energi Fahmy Radhi menyebutkan, ketergantungan terhadap energi fosil memang harus dikurangi secara bertahap.

Namun, perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih membutuhkan perubahan paradigma dalam pengelolaan energi nasional.

“Harus ada perubahan cara pandang para pemimpin. Jangan terlalu bergantung pada energi fosil, tetapi mulai dikembangkan energi baru terbarukan. Prosesnya juga tidak bisa cepat,” ujarnya.

Menurut Fahmy, Indonesia kemungkinan memerlukan waktu sekitar satu dekade untuk benar-benar melakukan peralihan menuju energi yang lebih ramah lingkungan. (agf/dio/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Dwi Anggia #Lonjakan harga minyak #selat hormuz