Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemimpin Hebat Ditentukan oleh Cara Berkomunikasi

A
Dr. Edmi Edison, M.D., Ph.D memberikan pemaparan dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand) di Ruang Sidang Senat, baru-baru ini. (DOK UNAND)
Dr. Edmi Edison, M.D., Ph.D memberikan pemaparan dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand) di Ruang Sidang Senat, baru-baru ini. (DOK UNAND)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM -- Kemampuan ber­komunikasi dan mengelola emosi merupakan dua faktor utama yang menentukan efekti­vitas seorang pemimpin. Hal ter­sebut disampaikan oleh Dr. Edmi Edison, M.D., Ph.D. da­lam kuliah umum bertajuk “Neu­­roleadership Insight for Strengthening Art in Language and Decision Making” yang digelar Universitas Andalas (Unand) di Rua­ng Sidang Senat, baru-baru ini.

Kegiatan yang menjadi ba­gian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas tersebut dibuka oleh Direktur Sumber Daya Manusia Universitas Andalas, Dr. Roni Eka Putra, yang mewakili Wakil Rektor III Unand.

Dalam paparannya, Dr. Edmi menjelaskan bahwa ke­pemimpinan dan manajemen merupakan dua konsep yang berbeda meskipun sering kali dianggap sama. Menurutnya, seorang pemimpin berfokus pada memastikan organisasi melakukan hal yang benar (make the right things), sedang­kan manajemen bertugas me­ma­stikan setiap pekerjaan dilakukan dengan benar dan efektif (make things right).

Advertisement

“Pemimpin bertanggung jawab menentukan arah dan memastikan organisasi berada pada jalur yang tepat, sementa­ra manajemen memastikan tujuan tersebut tercapai melalui pelaksanaan yang efektif,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dr. Edmi juga meluruskan panda­ngan yang berkembang di ma­sya­rakat mengenai dominasi otak kanan dan otak kiri sebagai penentu kemampuan ke­pe­mimpinan. Ia menegaskan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak ditentukan oleh dominasi salah satu belahan otak, melainkan oleh kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan secara tepat.

Menurutnya, pusat berpikir kritis, logika, dan pengambilan keputusan manusia berada pada bagian prefrontal cortex atau otak depan. Sementara pembagian fungsi otak ka­nan dan kiri lebih banyak berkaitan dengan aspek bahasa dan pemrosesan informasi tertentu. “Dominasi otak kanan atau kiri tidak dapat dijadikan indikator seseorang memiliki jiwa kepemimpinan yang le­bih baik,” jelasnya.

Advertisement

Dr. Edmi menambahkan, komunikasi tatap muka memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan komunikasi me­lalui media digital atau daring. Dalam komunikasi langsung, otak memproses berbagai unsur secara bersamaan, mulai dari kata-kata, intonasi suara, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh.

“Ketika berkomunikasi secara langsung, kita menggu­nakan lebih banyak fungsi otak karena pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga ekspresi, intonasi, dan bahasa tubuh,” katanya.

Ia juga menjelaskan cara kerja otak manusia dalam menerima informasi. Berdasarkan kajian neuroleadership, seseorang umumnya mampu menerima informasi secara optimal selama sekitar 50 menit, dengan tingkat perhatian tertinggi berada pada 20 menit pertama.

Karena itu, seorang pe­mimpin dituntut mampu me­nyampaikan pesan secara je­las, singkat, dan terstruktur agar informasi dapat dipahami secara maksimal oleh audiens.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Unand Kembangkan Inovasi Pangan Berbasis Komoditas Lokal 

Unand Kembangkan Inovasi Pangan Berbasis Komoditas Lokal 

Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar) mengembangkan ino­vasi pangan berbasis sumber daya hayati atau komoditas lokal

Lulusan Unand Ditantang Taklukkan Era AI

Lulusan Unand Ditantang Taklukkan Era AI

Perkembangan kecerdasan buatan ( artificial intelligence /AI) mengu­bah wa­jah dunia kerja dengan sa­ngat cepat.

Perbaikan Gizi sejak Remaja Kunci Lahirkan Generasi Bebas Stunting

Perbaikan Gizi sejak Remaja Kunci Lahirkan Generasi Bebas Stunting

Status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan menjadi faktor penentu kualitas kesehatan generasi mendatang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer