Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Penelitian Terbaru Mengungkap Harapan Baru Bagi Anak Autisme

Heri Sugiarto • Minggu, 21 Juli 2024 | 12:38 WIB
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gejala autisme yang parah berpotensi dikurangi hingga ke tingkat yang tidak teridentifikasi lagi. (Foto ilustrasi: help guide)
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gejala autisme yang parah berpotensi dikurangi hingga ke tingkat yang tidak teridentifikasi lagi. (Foto ilustrasi: help guide)
PADEK.JAWAPOS.COM-
Para ilmuwan menemukan harapan baru bagi anak autisme. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gejala autisme yang parah berpotensi dikurangi hingga ke tingkat yang tidak teridentifikasi lagi.
 
Temuan ini didasarkan pada studi kasus terhadap dua orang anak kembar tak identik di Amerika Serikat.
 
Pada usia 20 bulan, kedua anak tersebut didiagnosis autisme dengan tingkat keparahan yang membutuhkan dukungan yang sangat substansial.
 
Para peneliti kemudian melakukan terobosan dengan merancang program terapi khusus selama dua tahun.
 
 
Program ini dibuat berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak, dengan tujuan membantu mereka berkembang dan mencapai potensi terbaiknya.
 
Hasilnya sangat menjanjikan. Kedua anak perempuan tersebut mengalami perubahan drastis dalam tingkat keparahan gejala autisme.
 
Kemajuan salah satu anak, Twin P, dianggap sebagai "keajaiban" oleh para dokter anak.
 
Skor Twin P pada Autism Treatment Evaluation Checklist (ATEC) turun drastis dari 43 (dari skala 180) pada Maret 2022 menjadi hanya 4 pada Oktober 2023.
 
 
"Gejala salah satu anak perempuan ini berhasil dikurangi hingga ke titik di mana ia tidak bisa dibedakan lagi dengan anak-anak yang tidak pernah memiliki riwayat gejala autisme," ujar Dr. Chris D'Adamo, penulis studi dari University of Maryland, kepada The Telegraph.
 
"Fungsi anak ini sekarang sebanding dengan anak-anak yang tidak pernah didiagnosis autisme."
 
Anak kembar lainnya, yang dikenal sebagai Twin L, memiliki tingkat autisme yang lebih parah pada usia 20 bulan, dengan skor 76.
 
Namun, skor tersebut berhasil diturunkan menjadi 32 setelah satu setengah tahun menjalani program terapi.
 
 
 
"(Anak kembar ini) menunjukkan peningkatan yang drastis, tetapi tidak semaksimal yang dialami saudara perempuannya," kata Dr. D'Adamo.
 
Para ilmuwan tidak menggunakan istilah "sembuh" dalam penelitian ini. Namun, mereka percaya bahwa peningkatan yang dialami anak-anak tersebut kemungkinan besar bersifat permanen.
 
"Karena autisme adalah kondisi perkembangan, maka dapat dikatakan bahwa setelah mereka mengatasi hambatan perkembangan akibat autisme dan kembali ke jalur perkembangan yang normal, mereka sangat kecil kemungkinannya untuk kembali menunjukkan gejala autisme yang umum," jelas Dr. D'Adamo.
 
"Gejala yang mungkin bisa muncul kembali mungkin lebih terkait dengan kecemasan, masalah pencernaan, masalah sensorik, tetapi tidak dengan gejala perilaku autisme," tambahnya.
 
 
Program intervensi yang dijalani para anak kembar ini mencakup analisis perilaku, terapi bicara, serta diet ketat bebas gluten dan program nutrisi untuk mengurangi peradangan.
 
Diet yang mereka jalani juga bebas kasein (protein dalam susu), rendah gula, tanpa pewarna buatan, tanpa makanan olahan, didominasi bahan organik, dan berasal dari sumber lokal.
 
Selain itu, para anak kembar tersebut juga diberikan suplemen harian seperti omega-3 fatty acids, multivitamin, vitamin D, karnitin, dan lainnya.
 
Tidak Ada ‘Obat Tunggal
 
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal MDPI Sexes, orang tua dari anak kembar tersebut yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa mereka sadar tidak ada obat tunggal untuk membalikkan gejala autisme. Sebaliknya, program ini berfokus pada pengurangan "beban keseluruhan" yang dialami anak-anak mereka.
 
"Meskipun memiliki gen yang serupa dan pengalaman konsepsi, kehamilan, kelahiran, dan pascakelahiran yang identik - serta dibesarkan dalam lingkungan rumah dan dinamika keluarga yang konsisten - kedua putri kami menerima diagnosis ASD yang sepenuhnya unik," tulis mereka.
 
 
"Statistik konvensional menunjukkan kecilnya kemungkinan seorang anak bisa sembuh dari diagnosis ASD. Oleh karena itu, pendekatan kami berfokus pada pemahaman holistik yang tidak konvensional tentang kebutuhan individual masing-masing anak perempuan kami, mengeksplorasi akar penyebab masalah, dan merancang dukungan yang disesuaikan."
 
"Kami berkomitmen untuk terlibat secara aktif dalam semua terapi yang kami jalani, mendidik diri sendiri, dan memperjuangkan apa yang kami yakini terbaik untuk anak-anak kami. Yang terpenting, pengalaman kami sebagai orang tua adalah keinginan untuk menciptakan dan mempertahankan ikatan yang mendalam dan penuh kasih dengan masing-masing putri kami - dan tetap menjadi orang tua, bukan praktisi medis."
 
Melalui pendekatan tersebut, orangtuanya mengaku telah menyaksikan pemulihan luar biasa pada salah satu putrinya, yang sekarang tumbuh menjadi anak berusia empat tahun yang ceria, supel, penuh semangat, dan sangat cerdas.
 
"Kami tetap teguh dalam mendukung anak perempuan kami yang lain, yang kemajuannya juga terus memukau kami dan mengingatkan kami bahwa pemulihan dimungkinkan dengan kecepatan individual masing-masing anak," imbuhnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto
#kesehatan anak #terapi autis #penelitian terbaru #autis #autisme #anak kembar #terapi