
PADEK.JAWAPOS.COM - Nagari Sawah Tangah pada tanggal 24 Maret 2026 menjadi saksi sebuah peristiwa adat yang sarat makna, yakni pelaksanaan Batagak Gala Datuak atau Pangulu. Prosesi ini bukan sekadar seremoni pengangkatan pemimpin kaum dalam adat Minangkabau, melainkan juga momentum penting dalam merawat nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan inspirasi yang sangat berharga bagi dunia pendidikan, khususnya dalam upaya mengenalkan adat dan budaya Minangkabau kepada anak usia dini di PAUD Al-Fa’izin.
Batagak Gala Datuak merupakan simbol pengukuhan seorang pemimpin adat yang akan menjadi panutan dalam kaum dan nagari. Dalam prosesi tersebut, tergambar jelas nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap tradisi. Seluruh rangkaian acara dilaksanakan dengan penuh khidmat, melibatkan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta masyarakat luas. Bagi masyarakat Minangkabau, peristiwa ini bukan hanya tentang pemberian gelar, tetapi juga peneguhan identitas dan jati diri budaya.
Baca Juga: Tol Pekanbaru–Padang Dipercepat, Ruas Sicincin–Bukittinggi Dikebut
Bagi PAUD Al-Fa’izin, kehadiran peristiwa adat ini menjadi sumber belajar kontekstual yang sangat kaya. Anak-anak usia dini pada dasarnya belajar melalui pengalaman langsung dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, memperkenalkan budaya tidak cukup hanya melalui cerita atau gambar, tetapi perlu menghadirkan pengalaman nyata yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan. Batagak Gala Datuak menjadi media pembelajaran yang hidup, yang memungkinkan anak-anak memahami budaya secara lebih mendalam dan bermakna.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pengenalan budaya lokal memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter. Nilai-nilai yang terkandung dalam adat Minangkabau, seperti “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”, mengajarkan keseimbangan antara norma sosial dan nilai keagamaan. Melalui pengenalan budaya sejak dini, anak-anak tidak hanya mengenal identitasnya, tetapi juga belajar menghargai warisan leluhur serta mengembangkan sikap hormat, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Pasca kegiatan Batagak Gala Datuak, para pendidik di PAUD Al-Fa’izin merancang berbagai aktivitas pembelajaran yang terinspirasi dari peristiwa tersebut. Anak-anak diajak berdiskusi sederhana tentang apa yang mereka lihat, seperti pakaian adat yang dikenakan, musik tradisional yang dimainkan, serta peran tokoh-tokoh dalam acara tersebut. Guru menggunakan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, seperti melalui bercerita, bermain peran, menggambar, dan bernyanyi.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah bermain peran “Batagak Pangulu” dalam versi sederhana. Anak-anak diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat mini dan memerankan tokoh-tokoh dalam prosesi adat. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu anak memahami peran sosial dalam masyarakat. Mereka belajar bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing, serta pentingnya bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Selain itu, guru juga mengembangkan media pembelajaran berupa buku cerita bergambar yang mengangkat kisah Batagak Gala Datuak dengan bahasa yang sederhana dan ilustrasi yang menarik. Buku ini menjadi sarana literasi budaya yang efektif, karena anak-anak dapat memahami cerita dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Melalui cerita, nilai-nilai seperti kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keadilan dapat ditanamkan secara halus dan menyenangkan.
Kegiatan lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran. PAUD Al-Fa’izin mengajak orang tua untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang adat Minangkabau di rumah. Orang tua didorong untuk menceritakan kembali pengalaman mereka saat menghadiri acara adat, mengenalkan istilah-istilah adat, serta membiasakan anak menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci keberhasilan dalam menanamkan nilai budaya kepada anak.
Momentum Batagak Gala Datuak juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, anak-anak semakin terpapar pada budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai lokal. Oleh karena itu, pendidikan berbasis budaya menjadi sangat penting untuk menjaga identitas dan jati diri generasi penerus.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




