Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bel Sekolah tak Lagi Membuat Gelisah

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd.
Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd.

Advertisement

Penulis : Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd. - Guru SMP Negeri 8 Payakumbuh

Ada perubahan yang datang secara perlahan tanpa suara yang keras. Perubahan ini tidak mengejutkan di ruang kelas, tidak mengubah kurikulum secara mendadak, dan tidak tercatat sebagai peristiwa besar. Namun, perubahan ini mulai meresap ke dalam kehidupan sehari-hari di sekolah seperti cara siswa memandang waktu, tugas, dan tanggung jawab.

Sebelumnya, bunyi bel sekolah memiliki dampak yang jelas. Ia menandakan batas waktu, menuntut penyelesaian, dan seringkali memunculkan sedikit kegelisahan: seperti tugas yang belum diselesaikan, catatan yang tertinggal, atau pekerjaan rumah yang harus segera dikumpulkan. Dalam kegelisahan tersebut, ada dorongan untuk bergerak, memperbaiki, dan menyelesaikan.

Advertisement

Saat ini, bel itu masih berbunyi dengan cara yang sama. Jam pelajaran masih berganti seperti biasanya. Namun, respons yang mengikutinya tidak selalu konsisten. Ada yang tetap tanggap, tetapi banyak yang menjalani semua ini dengan tenang bahkan terlalu tenang. Seolah waktu selalu tersedia dalam jumlah yang dapat ditunda, dan kata “nanti” menjadi tempat aman untuk hampir semua urusan.

Ini bukan berarti generasi ini kehilangan kemampuan atau semangat untuk belajar. Sebaliknya, mereka tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda. Informasi kini tersedia secara tanpa batas, jawaban dapat diperoleh dalam beberapa detik, dan bantuan belajar hadir dalam genggaman tangan. Dunia menjadi cepat, praktis, dan serba mudah.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat perubahan yang perlahan terasa seperti cara memaknai proses. Ketika segala hal dapat dipercepat, maka proses yang memerlukan waktu panjang kerap kehilangan urgensinya. Saat jawaban dapat diperoleh secara instan, pencarian yang melelahkan terasa tidak lagi mendesak. Secara perlahan, “nanti” menjadi kebiasaan, bukan pengecualian.

Advertisement

Di ruang kelas, hal ini terlihat dalam detail-detail sederhana. Tugas yang tertunda tidak selalu menimbulkan kegelisahan. Nilai yang belum memuaskan tidak selalu diiringi dorongan untuk segera memperbaiki. Bahkan, peringatan yang berulang kali kadang baru mendapatkan perhatian ketika waktu sudah mendekati akhir.

Pada titik ini, guru sering kali menghadapi tantangan yang tidak mudah. Mereka mengingatkan, menunggu, mem­berikan kesempatan, lalu mengingatkan kembali. Dalam banyak situasi, guru Justru lebih­ gelisah daripada siswa bukan karena ingin menekan, tetapi karena menyaksikan waktu berlalu sementara kesadaran belum sepenuhnya bersamaan.

Pertanyaan yang muncul pun tidak selalu mudah dijawab, apakah ini menunjukkan penurunan tanggung jawab, ataukah adaptasi terhadap dunia yang berubah? Apakah ini ketidakpedulian, ataukah cara baru generasi ini dalam memahami proses?

Yang pasti, ada pergeseran dari cara lama dalam memandang pembelajaran. Jika dahulu proses adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan, kini hasil sering menjadi fokus utama. Padahal, dalam proses itulah karakter mulai terbentuk seperti disiplin dalam menyelesaikan tugas tepat waktu, ketekunan saat memperbaiki kesalahan, dan ketahanan ketika harus mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Di Balik Pintu Kelas, Ada Hati yang Mengabdi

Di Balik Pintu Kelas, Ada Hati yang Mengabdi

Di setiap fajar yang perlahan membuka cakrawala, ada langkah-langkah sunyi yang berangkat lebih awal daripada embun sempat mengering di dedaunan.

Guru yang Dirindukan

Guru yang Dirindukan

GURU adalah pekerjaan yang mulia. Seorang guru, rela berangkat pagi dan pulang petang hanya demi mencerdaskan anak bangsa.

Bertaburan Prestasi Awal Tahun Pelajaran 2026/2027

Bertaburan Prestasi Awal Tahun Pelajaran 2026/2027

MEMASUKI awal Tahun Pelajaran 2026/2027, SDN 21 Payakumbuh mengawali langkah dengan berbagai prestasi membanggakan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer