
Penulis : Wisma Diandra, M.Pd - Kepala SDN 28 Payakumbuh
Di lingkungan sekolah, hari pembagian rapor sering kali menjadi ajang pembuktian tersirat bagi anak-anak. Ketika melihat teman-temannya didampingi orang tua, seorang anak yang ayahnya hadir akan merasakan letupan rasa bangga yang luar biasa.
Di hadapan teman sebaya, kehadiran ayah memberikan rasa percaya diri yang lebih besar. Anak merasa bangga dalam arti positif karena memiliki sosok ayah yang peduli dan terlibat dalam kehidupannya. Anak juga merasa diistimewakan karena menyadari bahwa ayahnya mungkin sibuk bekerja. Ketika sang ayah memilih meluangkan waktu untuk hadir ke sekolah, anak menangkap pesan yang sangat berarti, yakni, “Kamu lebih penting daripada pekerjaan Ayah hari ini.”
Kehadiran ayah yang menyediakan waktunya untuk datang ke sekolah memberikan dampak psikologis terhadap perkembangan anak. Sosok ayah, yang sering kali diidentikkan sebagai figur pelindung dan pencari nafkah yang sibuk, ternyata memiliki pengaruh yang signifikan dalam momen akademis anak.
Pertama, kehadiran ayah dapat meningkatkan self-esteem (harga diri) anak. Saat ayah hadir, anak merasa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini menjadi fondasi yang kuat bagi tumbuhnya harga diri. Anak berkembang dengan keyakinan bahwa keberadaan dan usaha mereka di sekolah diapresiasi oleh figur yang mereka kagumi.
Kedua, kehadiran ayah memperkuat secure attachment (ikatan aman). Dalam psikologi, secure attachment terbentuk ketika anak merasa bahwa orang tuanya selalu hadir dan dapat diandalkan. Kehadiran ayah saat pembagian rapor meyakinkan anak bahwa ayah tidak hanya hadir secara finansial, tetapi juga secara emosional dan fisik.
Ketiga, kehadiran ayah dapat meningkatkan motivasi belajar. Mengetahui bahwa ayah memantau langsung perkembangan belajarnya melalui guru membuat anak merasa bahwa usahanya tidak sia-sia. Hal ini memunculkan motivasi intrinsik dalam diri anak untuk memberikan yang terbaik pada semester berikutnya, bukan karena takut dihukum, melainkan karena ingin kembali membuat ayah bangga.
Selain itu, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa keterlibatan aktif seorang ayah (active fathering) berkorelasi positif dengan kesehatan mental anak yang lebih stabil. Anak-anak yang ayahnya terlibat cenderung lebih mampu mengelola stres, lebih jarang mengalami kecemasan di sekolah, serta memiliki kontrol emosi yang lebih baik.
Untuk itu, wahai para ayah, yang dinanti anak dalam momen pembagian rapor bukanlah angka-angka di atas kertas, melainkan tepukan di bahu, senyuman bangga, atau pelukan hangat dari sang ayah saat berjalan bersama keluar dari ruang kelas. Momen selama tiga puluh menit di sekolah itu akan diingat anak seumur hidupnya.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada para ayah agar dapat terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah, khususnya saat pengambilan rapor.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




