
Penulis : Novi Handra, S.Pd.I.,M.Pd.,Gr. - Guru PAI SMP Negeri 8 Payakumbuh
“Tidak semua yang perlu di bawa ke sekolah adalah tas. Ada label yang seharusnya ditinggalkan di gerbang sekolah. “
Awal tahun ajaran baru selalu hadir dengan aroma buku baru, seragam yang sudah rapi, dan harapan yang diam-diam diletakkan orang tua di saku anak-anak mereka. Namun, ada satu hal yang hampir tidak terlihat, tetapi senantiasa menyertai setiap siswa di dalam kelas: label.
“Dia anak nakal. “
“Dia memang malas. “
“Dia lemah dalam matematika. “
“Dia pendiam. “
“Dia tidak akan berubah. “
Pernyataan-pernyataan tersebut memang tidak tertulis di rapor, tetapi sering kali lebih berpengaruh daripada nilai-nilai dalam rapor itu sendiri. Label tersebut melekat di benak guru, teman-teman, bahkan pada diri anak itu sendiri.
Ironisnya, sekolah, yang seharusnya menjadi tempat bagi seseorang menemukan kemungkinan baru, malah terkadang bertransformasi menjadi museum yang menyimpan identitas lama. Anak-anak dipajang dengan label yang sama dari tahun ke tahun, seolah-olah mereka tidak memiliki hak untuk berkembang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




