
Penulis : Dr. Gusnedi, STP, MPH - Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Padang dan Ketua DPD Persagi Sumatera Barat
Di banyak keluarga Indonesia, pagi sering dimulai dengan tergesa-gesa. Tidak sedikit anak berangkat ke sekolah hanya dengan minuman manis, makanan ringan, bahkan tanpa sarapan. Kebiasaan ini tampak sederhana, tetapi berdampak besar terhadap kesehatan dan kualitas generasi masa depan.
Masalah gizi anak sekolah di Indonesia masih kompleks. Selain kekurangan gizi, Indonesia juga menghadapi beban ganda gizi, yakni kondisi ketika sebagian anak kekurangan zat gizi penting, sementara sebagian lainnya mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah nilai gizi. Anak mungkin kenyang, namun belum tentu sehat.
Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan sekitar 65 persen anak usia sekolah belum terbiasa sarapan sebelum belajar. Sementara itu, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi anemia mencapai 26,8 persen pada anak usia 5–14 tahun dan sekitar 32 persen pada usia 15–24 tahun. Kondisi ini berpengaruh terhadap konsentrasi belajar, kebugaran, dan produktivitas jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini bukan sekadar menyediakan makanan di sekolah, tetapi merupakan investasi jangka panjang menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Berbagai negara telah membuktikan manfaat program makan sekolah. Amerika Serikat memiliki National School Lunch Program, Jepang mengintegrasikannya dengan pendidikan karakter dan budaya pangan, sedangkan Brasil menghubungkannya dengan penguatan pangan lokal. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa program makan sekolah mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.
Di Indonesia, MBG hadir pada momentum bonus demografi yang membutuhkan generasi sehat dan berkualitas. Selain membantu memperbaiki asupan gizi anak, program ini juga dapat meringankan beban keluarga rentan karena mampu memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan gizi harian peserta didik.
Namun, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan besarnya anggaran, melainkan kualitas pelaksanaannya. Makanan yang disajikan harus memenuhi prinsip gizi seimbang, aman dikonsumsi, dan sesuai dengan kebutuhan anak berdasarkan usia serta tahap pertumbuhannya. Program ini juga memerlukan standar higiene dan sanitasi yang ketat, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi.
Tantangan lainnya adalah keragaman geografis dan budaya pangan Indonesia. Karena itu, pendekatan berbasis pangan lokal menjadi pilihan yang tepat. Indonesia memiliki beragam sumber pangan bergizi seperti ikan, telur, tempe, tahu, jagung, ubi, singkong, kacang-kacangan, daun kelor, buah, dan sayuran yang tersedia di berbagai daerah.
Pemanfaatan pangan lokal tidak hanya mendukung kebutuhan gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat, mulai dari petani, nelayan, hingga pelaku UMKM pangan. Meski demikian, penggunaan pangan lokal tetap harus memenuhi standar kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan anak sekolah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


