
Setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, sebagian besar jemaah mengalami kelelahan fisik. Padatnya aktivitas ibadah, jarak tempuh yang panjang, paparan suhu tinggi, serta perubahan pola makan dan waktu istirahat menjadi faktor yang menguras stamina selama berada di Tanah Suci.
Kondisi tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, pemulihan kesehatan setelah ibadah haji tetap perlu menjadi perhatian agar tubuh dapat kembali bugar dan aktivitas sehari-hari berjalan optimal.
Menurut ahli gizi UNP Dr.dr. Zuhrah Taufiqa, M. Biomed Salah satu kunci penting dalam proses pemulihan pascahaji adalah pemenuhan gizi yang baik dan seimbang.
Tubuh memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk mengembalikan energi, memperbaiki jaringan yang mengalami kelelahan, serta membantu memulihkan sistem kekebalan tubuh.
Karbohidrat dibutuhkan sebagai sumber energi utama, protein berperan dalam memperbaiki dan membangun kembali jaringan tubuh, sementara vitamin dan mineral membantu menjaga daya tahan tubuh sekaligus mempercepat proses pemulihan. “Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama menjalani rangkaian ibadah,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, konsumsi makanan bergizi seimbang dengan variasi yang cukup akan membantu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh.
Evaluasi kondisi kesehatan jemaah setelah kembali dari haji dapat dilakukan dengan memperhatikan perubahan berat badan, kondisi fisik, nafsu makan, kemampuan menjalankan aktivitas harian, serta kondisi kesehatan secara umum.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada jemaah lanjut usia maupun yang memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan setelah perjalanan panjang dan aktivitas fisik yang intens.
Pola makan yang kurang tepat selama maupun setelah ibadah haji juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak secara berlebihan dapat memperburuk penyakit kronis yang telah ada sebelumnya. Di sisi lain, kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan dehidrasi, sementara rendahnya konsumsi serat dapat memicu gangguan pencernaan, seperti sembelit.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




