Pedagang Perabot di Lubuk Buaya Mengeluh, Harga Plastik Terus Naik

PADEK.JAWAPOS.COM—Dampak ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, mulai dirasakan hingga ke sektor ekonomi lokal di Indonesia. Salah satu dampak yang paling terasa adalah melonjaknya harga plastik secara nasional akibat terganggunya pasokan minyak mentah sebagai bahan baku utama.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pelaku usaha yang bergantung pada produk berbahan plastik, termasuk pedagang perabot rumah tangga. Salah satunya dirasakan Yunasri (46), pemilik usaha Dian Ras Perabot Alat Rumah Tangga di kawasan Pasar Lubuk Buaya.
Menurut Yunasri, lonjakan harga mulai terasa sejak awal April 2026. Sebelumnya, pada akhir Maret, kenaikan harga masih relatif kecil, sekitar 5 persen. Namun memasuki awal April, harga melonjak drastis hingga 25–35 persen.
Baca Juga: Sering Dijadikan Bumbu Dapur, Ini Manfaat Kesehatan Jahe yang Jarang Disadari
“Setelah Idulfitri, harga sempat naik sedikit. Tapi mulai 1 April, kenaikannya sangat signifikan, bisa sampai 25 sampai 35 persen,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia mengaku, selama 20 tahun menjalankan usaha, baru kali ini mengalami lonjakan harga yang begitu tinggi dalam waktu singkat. Dampaknya pun langsung terasa pada harga jual barang di tokonya.
Untuk produk kursi plastik, misalnya, yang sebelumnya dijual di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000, kini harga modalnya saja sudah mendekati Rp80.000. Agar tetap memperoleh keuntungan dan menjaga perputaran stok, harga jual terpaksa dinaikkan menjadi sekitar Rp90.000.
Kenaikan juga terjadi pada produk lain seperti spring bed dan lemari plastik. Jika sebelumnya spring bed dijual sekitar Rp1,5 juta, kini harga modal mencapai Rp2 juta. Sementara lemari plastik yang sebelumnya bermodal Rp400.000 kini naik menjadi Rp600.000.
Lonjakan harga ini berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Yunasri menyebut, banyak calon pembeli yang menunda pembelian karena harga yang dianggap terlalu tinggi.
“Penurunannya cukup drastis, bisa sampai 50 persen. Biasanya setelah Lebaran orang banyak beli perabot baru, tapi sekarang mereka memilih pakai yang lama,” katanya.
Baca Juga: Singgah Sebentar, Terpikat Selamanya
Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, harga barang terus meningkat, sementara di sisi lain penjualan menurun tajam. Bahkan, Yunasri terpaksa meminta kelonggaran pembayaran kepada pemasok agar tetap bisa mempertahankan usahanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




