Kalah 0-4 oleh Guinea Khatulistiwa pada matchday pemungkas (23/1) malah membuat entraineur Jean-Louis Gasset kehilangan jabatannya. Tetapi, dua pekan berselang, nasib mereka berbalik 180 derajat dengan dipastikan jadi finalis.
Itu seiring kemenangan 1-0 atas Republik Demokratik Kongo pada semifinal di Stadion Alassane Ouattara Stadium, Abidjan, kemarin (8/2). Dalam final di venue yang sama pada Senin (12/2) dini hari, Franck Kessie dkk bersua Nigeria yang kemarin mengalahkan Afrika Selatan via adu penalti 4-2.
Final tersebut merupakan kali kelima dalam sejarah Pantai Gading setelah 1992, 2006, 2012, dan 2015. Mereka berhasil menjuarai dua di antaranya (1992 dan 2015).
“Ini (lolos final, red) seperti mimpi. Apalagi jika mengingat dua pekan lalu (pasca kekalahan oleh Guinea Khatulistiwa, red). Kala itu kami nyaris putus asa tampil di depan publik sendiri,” tutur karteker pelatih Pantai Gading Emerse Fae kepada Eurosport.
Pantai Gading merupakan tuan rumah pertama sejak Mesir pada 2006 yang sukses melangkah ke final. Dalam sejarah Piala Afrika, ada 13 edisi yang salah satu finalisnya merupakan tim tuan rumah dan 10 di antaranya juara. Statistik yang bisa menambah motivasi Les Elephants.
“Kami tidak pernah berhenti percaya terhadap kemampuan tim ini. Bahkan ketika peluangmu sangat kecil atau antara 5–10 persen. Hal itulah yang membuat sepak bola sangat indah,” beber kapten tim sekaligus gelandang Kessie seperti dilansir ESPN. (io/c19/dns/jpg) Editor : Novitri Selvia