Saat itu pembalap berusia 26 tahun tersebut sedang memimpin jalannya balapan sepanjang 78 lap itu. Luapan emosiLeclerc makin tak terbendung saat balapan tinggal menyisakan dua lap dan dia masih memimpin jalannya balapan.
“Saat itu aku sampai berusaha keras hanya untuk bisa melihat karena mataku sudah penuh air mata,” ucap Leclerc seusai balapan sebagaimana dilansir Crash.
Pembalap asal Monako tersebut mengaku terus berusaha keras mengendalikan diri. Itu disebabkan konsentrasinya mulai terpecah. Dia terbayang-bayang mendiang sang ayah Herve, keluarga, dan sahabat-sahabat terdekatnya yang selama ini terus mendukungnya.
Padahal, saat itu para pesaing seperti Oscar Piastri (McLaren) dan rekan setimnya, Carlos Sainz Jr, siap mengambil alih pimpinan lomba. “Aku terus mengatakan kepada diriku sendiri. Ayo Charles, kendalikan dirimu. Dua lap lagi,” ungkapnya.
Leclerc akhirnya menyelesaikan semua rintangan itu dengan baik. Dia mempertahankan posisi terdepan sampai finis. Kemenangan tersebut begitu manis karena menjadi podium pertamanya di rumah sendiri. “Kemenangan ini tidakhanya mewujudkan mimpiku. Tapi juga mimpi mendiang ayahku,” ucapnya dalam konferensi pers seusai balapan.
Hasil itu sekaligus menjadi podium tertinggi pertama Leclerc musim ini. Dia kini tercatat sebagai pembalap asal Monako pertama yang sanggup menjadi juara GP Monako. Yakni sejak Louis Chiron melakukan hal serupa nyaris seabad silam pada 1931.
“Ini akhir pekan yang ingin segera aku lupakan sekaligus diambil pelajaran. Kami harus segera move on,” ucap pembalap Red Bull Max Verstappen yang finis di posisi keenam. Menduduki podium kedua dan ketiga di balapan ini adalah Piastri dan Sainz.
Balapan GP Monako Minggu lalu sempat terhenti selama 44 menit. Itu akibat red flag dikibarkan di tengah lap pertama gara-gara insiden tabrakan yang melibatkan pembalap Red Bull Sergio Perezdan dua pembalap Haas Kevin Magnussen serta Nico Hulkenberg. (irr/c9/bas)
Editor : Novitri Selvia