Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengurai Kemacetan Padang-Bukittinggi

T
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Timtim Deby Purnasebta - Praktisi GIS Sumatera Barat

KORIDOR Jalan Padang–Bukittinggi merupakan urat nadi transportasi Sumatera Barat. Jalur ini menghubungkan kawasan pesisir dengan dataran tinggi serta menjadi lintasan utama mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan arus wisata menuju Bukittinggi, Agam, Limapuluh Kota, hingga Provinsi Riau.

Namun, setiap musim libur, akhir pekan, maupun Lebaran, koridor ini hampir selalu menghadapi persoalan yang sama: kemacetan panjang yang terus berulang.

Advertisement

Pada arus balik Lebaran 2026, antrean kendaraan di kawasan Lembah Anai dilaporkan mencapai lebih dari tujuh kilometer. Pada puncak kepadatan, kendaraan membutuhkan waktu hampir satu jam hanya untuk menempuh jarak sekitar satu kilometer sehingga rekayasa lalu lintas berupa sistem one way terpaksa diterapkan.

Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan Padang–Bukittinggi hanya memerlukan waktu sekitar dua hingga dua setengah jam. Ketika kepadatan ekstrem terjadi, waktu tempuh dapat meningkat menjadi empat hingga enam jam, bahkan lebih lama pada titik-titik bottleneck seperti Lembah Anai, Padang Lua, dan kawasan Pasar Koto Baru.

Sayangnya, diskusi publik masih sering terjebak pada pertanyaan yang kurang tepat. Sumatera Barat kerap diposisikan seolah hanya perlu memilih satu di antara Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi, reaktivasi jalur kereta api, atau Fly Over Padang Lua.

Advertisement

Padahal, ketiga proyek tersebut tidak saling bersaing. Masing-masing dirancang untuk menyelesaikan persoalan transportasi yang berbeda.

Dari perspektif geospasial, kemacetan Padang–Bukittinggi merupakan konsekuensi dari tingginya mobilitas regional, struktur jaringan transportasi yang masih bertumpu pada satu koridor utama, padatnya simpul lalu lintas, karakter bentang alam Pegunungan Bukit Barisan, serta tingginya kerentanan kawasan terhadap bencana.

Karena itu, persoalan utamanya bukan memilih proyek, melainkan membangun sistem transportasi yang sesuai dengan karakter ruang Sumatera Barat. Sebagai praktisi Geographic Information System (GIS) yang mengamati tata ruang dan kebencanaan di Sumatera Barat, saya memandang bahwa jalan tol, jalur kereta api, dan fly over merupakan satu kesatuan sistem yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi berfungsi meningkatkan konektivitas regional. Selama ini, jalan nasional harus melayani berbagai jenis perjalanan secara bersamaan, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan umum, logistik, hingga kendaraan wisata. Ketika seluruh arus tersebut bertumpu pada satu koridor, kapasitas jalan menjadi semakin terbebani.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sapa Penumpang di Stasiun Padang, KAI Tekankan Pelayanan Ramah dan Humanis

Sapa Penumpang di Stasiun Padang, KAI Tekankan Pelayanan Ramah dan Humanis

KAI Divre II Sumbar bersama Dishub Sumbar menyapa penumpang di Stasiun Padang dan menekankan pelayanan transportasi ramah serta humanis.

Rinto Wijaya Pimpin Organda Sumbar, Dorong Bus Tingkatkan Layanan di Tengah Mahalnya Tiket Pesawat

Rinto Wijaya Pimpin Organda Sumbar, Dorong Bus Tingkatkan Layanan di Tengah Mahalnya Tiket Pesawat

Rinto Wijaya memimpin Organda Sumbar dan mendorong pengusaha bus meningkatkan layanan, kelayakan kendaraan, keamanan, kenyamanan penumpang.

Minang Geopark Run 2026 di Bukittinggi, Jasindo Beri Perlindungan Kecelakaan

Minang Geopark Run 2026 di Bukittinggi, Jasindo Beri Perlindungan Kecelakaan

Jasindo menyediakan perlindungan kecelakaan diri bagi peserta Minang Geopark Run 2026 di Bukittinggi, sekaligus mendukung pengembangan sport

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer