Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Radical Break!

Heri Sugiarto
Penulis: Heri Sugiarto❯

Tommy TRD, Kabag Prokopim Pemko Padang  (Foto: Dok. PRI)
Tommy TRD, Kabag Prokopim Pemko Padang (Foto: Dok. PRI)
Oleh : Tommy TRD, Kabag Prokopim Pemko Padang.


Advertisement


PADEK.JAWAPOS.COM-Jika berkaca dari beberapa sejarah perjalanan panjang dan perubahan nasib bangsa-bangsa di dunia, maka bisa ditemukan satu persamaan yang sering terjadi sebelum perubahan besar.

Rocky Gerung mempopulerkannya dengan istilah radical break. Yaitu sebuah perubahan mendasar baik itu dalam aspek kebijakan, kelembagaan, personel, dan pemutusan pengaruh masa lalu dalam mayoritas aspek.

Dalam bentuk yang lebih soft, radical break sering disamakan dengan thinking out of the box. Namun radical break lebih kepada aksi perubahan mendasar, executable, 180 derajat, dan dalam waktu singkat.

Advertisement

Kembali ke sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia. Radical break selalu terjadi sebelum perubahan nasib sebuah bangsa.

Yang paling fenomenal tentu China. Bagaimana sebuah negara miskin, berpenduduk padat, pertanian lemah, terjebak dengan candu, menjadi negara maju, powerful, dengan ekonomi kuat, dan memiliki pengaruh geopolitik luas.

Apa yang menyebabkan perubahan itu?

Advertisement

Merdeka pada tahun 1949 di bawah kepemimpinan Mao Zedong yang “sangat komunis”, dan serba tersentral, radical break China terjadi pada tahun 1978 di era kepemimpinan Deng Xiaoping, dengan open door policy pada sektor investasi, Zona Ekonomi Khusus, Segmentasi Liberalisasi Ekonomi, dan Household Responsibility System pada sektor pertanian.

Salah satu yang paling menarik dari kepemimpinan Deng Xiaoping dalam melakukan radical break ini adalah keberhasilannya melakukan separasi atau pembatasan antara ideologi dan ekonomi negara.

Negara komunis yang sebelumnya dikenal dengan serba terpusat, tersentral dan garis komando yang kaku dari pusat hingga desa, dalam semua aspek bernegara, berubah menjadi lebih “fleksibel” di tangan Deng Xiaoping.

China dengan ideologi komunis yang begitu dekat dengan ekonomi sosialis, berubah menjadi hybrid. Dengan ideologi yang tetap komunis namun dengan ekonomi yang liberalis.

“Tidak masalah kucing hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus itu kucing yang baik” ucap Deng Xiaoping menjelaskan pragmatisme kepemimpinan dan kebijakannya.

Menandakan keberhasilan radical break Deng Xiaoping, melebihi angka-angka di atas kertas, bahwa dasar kebijakannya telah menjadi blue print dan dilanjutkan berdekade sesudahnya oleh penggantinya, dari Jiang Zemin, Hu Jintao hingga Xi Jinping.

Dari Radical Break Deng Xiaoping di China, kita bisa melihat bahwa kemajuan suatu bangsa membutuhkan titik balik yang dianalisa dengan baik, pemimpin yang kompeten, kebijakan yang proporsional namun efektif, serta berorientasi jauh ke depan.

Semua faktor itu menggaransi pertumbuhan yang terukur dan signifikan.

Konon Napoleon Bonaparte pernah mengatakan kepada salah seorang diplomat Inggris, “ketika China terbangun dunia akan bergetar”.

Sayang sekali Napoleon tidak sempat membuktikan bagaimana perkataannya ratusan tahun yang lalu itu begitu tepat.(*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Gate Keeper vs Viralism Bubble

Gate Keeper vs Viralism Bubble

Konsep gate keeper dinilai penting menjaga kualitas demokrasi ketika viralitas media sosial semakin memengaruhi proses lahirnya pemimpin.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer