
Oleh: Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)
PADEK.JAWAPOS.COM-Ketika Francis Fukuyama menorehkan tesis radikalnya dalam The End of History and the Last Man pada awal dekade 1990-an—menyusul ambruknya Tembok Berlin—dunia seakan dipaksa mengamini bahwa sejarah telah mencapai titik pemberhentian terakhirnya.
Fukuyama meramalkan berakhirnya pertarungan ideologi besar dunia dengan kemenangan mutlak kapitalisme liberal. Namun, tiga dekade setelah nubuat kembar transisi global itu berlalu, kita justru menyaksikan sebuah anomali historis yang menuntut pembacaan ulang.
Di tengah ketidakpastian geopolitik kontemporer, ingatan saya mendadak tersentak pada sebuah fragmen literatur lisan yang hidup dalam memori kolektif bangsa kita: sebuah folklore modern, kisah apokrifa yang mempertemukan dua raksasa arsitek Gerakan Non-Blok, Presiden Soekarno, Presiden pertama Indonesia (1945–1966), dan Marsekal Josip Broz Tito, Presiden pertama Yugoslavia (1953–1980).
Baca Juga: Semen Padang Jadikan Hari Lahir Pancasila Momentum Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Global
Folklor Modern
Folklor modern, yang juga disebut folklor kontemporer atau legenda urban, adalah cerita, mitos, atau kepercayaan yang berkembang dan diwariskan dalam masyarakat kontemporer.
Kisah ini mencerminkan kecemasan, nilai, atau budaya masyarakat saat ini dan menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut, melalui media massa, maupun internet.
Alkisah, dalam sebuah ruang dialog kebangsaan yang karismatik, Bung Karno melempar tanya yang bernada profetik: “Tuan Tito, jika Anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa Anda?”
Dengan busung dada seorang panglima, Tito menjawab penuh kebanggaan, “Aku memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




