Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dehumanisasi Pasangan Akibat Bahasa Klinis Populer di Media Sosial

Heri Sugiarto
Penulis: Heri Sugiarto❯
Ahmad Salman Farid, Dosen Media Komunikasi dan Penyiaran Islam di STAIN Mandailing Natal.(Foto: Dok. PRI)
Ahmad Salman Farid, Dosen Media Komunikasi dan Penyiaran Islam di STAIN Mandailing Natal.(Foto: Dok. PRI)

Advertisement

Oleh: Ahmad Salman Farid, Dosen Media Komunikasi dan Penyiaran Islam di STAIN Mandailing Natal.

PADEK.JAWAPOS.COM-Ruang privat dalam pernikahan kita hari ini sedang dijajah oleh satu hal yang tampak ilmiah namun sesungguhnya destruktif, yaitu psikologi populer berdurasi enam puluh detik.

Kosakata klinis seperti gangguan kepribadian narsistik, manipulasi mental, hubungan beracun, hingga ikatan trauma yang dulunya merupakan diagnosis medis kompleks di ruang praktik psikiater, kini telah bermutasi menjadi bahasa pergaulan harian.

Advertisement

Celakanya, dalam komunikasi relasional, berbagai istilah tersebut tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu untuk memahami, melainkan sebagai senjata untuk menghakimi dan mencabut sisi kemanusiaan dari diri pasangan.

Media sosial menciptakan ilusi bahwa menonton konten video singkat setara dengan memperoleh literasi psikologi yang mendalam.

Advertisement

Ketika seorang kreator konten tanpa kredibilitas klinis merangkum masalah relasi manusia yang rumit ke dalam format daftar mudah cerna seperti tanda pasangan narsistik atau indikasi pasangan beracun, audiens merasa tercerahkan secara instan.

Fenomena ini melahirkan bahaya besar dalam komunikasi interpersonal berupa pemberian label sepihak tanpa analisis konteks yang utuh.

Sebagai contoh nyata, ketika pasangan sepulang kerja ingin diam sejenak karena kelelahan fisik dan mental, tindakan tersebut tidak lagi dibaca sebagai kebutuhan istirahat yang manusiawi.

Kacamata psikologi populer di media sosial dengan cepat melabelinya sebagai perilaku menghindar atau pembungkaman emosional. Begitu pula ketika pasangan membela diri saat terjadi argumen, respons tersebut langsung divonis sebagai manipulasi atau sikap defensif yang merugikan.

Manusia dengan segala dinamika emosi dan kelelahan hidupnya dipangkas habis, sehingga pasangan tidak lagi dipandang sebagai manusia yang bisa salah, capek, atau terluka, melainkan direduksi menjadi kumpulan bendera merah dan label klinis semata.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Narasi Keberhasilan Pemerintah Diuji Realitas, Kritik Publik Perlu Dijawab

Narasi Keberhasilan Pemerintah Diuji Realitas, Kritik Publik Perlu Dijawab

Kritik pemerintah di media sosial menjadi ujian komunikasi politik. Abdullah Khusairi menyoroti kepercayaan publik dan realitas masyarakat.

Gate Keeper vs Viralism Bubble

Gate Keeper vs Viralism Bubble

Konsep gate keeper dinilai penting menjaga kualitas demokrasi ketika viralitas media sosial semakin memengaruhi proses lahirnya pemimpin.

Siklus Panem et Circenses di Indonesia

Siklus Panem et Circenses di Indonesia

Refleksi Panem et Circenses di Indonesia mengulas bansos, MBG, media sosial, dan tantangan menjaga demokrasi serta kesadaran publik kritis.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer