Dosen IKM/KK FK Unand
Saat ini tengah digaungkan hashtag #IngatPesanIbu, di mana sangat berkaitan dengan aturan protokoler kesehatan yaitu 3 M. Memakai masker berfungsi mencegah penularan virus dari tangan yang akan menyentuh hidung atau mulut; Mencuci tangan dikarenakan tidak satu pun dapat dipastikan tangan yang kelihatan bersih tidak mengandung virus atau bakteri pembawa penyakit; Dan terakhir Menjaga jarak dengan orang lain.
Lalu, kenapa subjek dalam hastag tersebut ”Ibu”? Karena ibu lah sosok yang selalu rutin memberi pesan kepada anak-anaknya, mengingatkan anaknya akan hal-hal yang kerap terlupakan. Bila ditilik pesan ibu 3M di atas memang sangat penting dan bermanfaat untuk menjaga diri kita, keluarga, serta masyarakat umumnya.
Betapa tidak? Hanya dengan patuh memasang masker yang menutupi mulut dan hidung secara otomatis, kita tidak akan memercikkan cairan ludah atau hidung kita kepada orang-orang dan benda sekitar, sebagai media penularan virus tersebut. Begitupun sebaliknya, kita akan terhindar dari percikan ludah orang lain apabila tanpa sengaja melayang ke arah kita.
Lalu kenapa harus masker? Kenapa bukan sapu tangan atau kertas tissue saja? Jawabannya, masker yang terstandar mempunyai bahan yang memenuhi syarat tembusnya droplet berisikan virus baik keluar maupun masuk dari mulut dan hidung.
Sapu tangan atau tisu tidak akan mampu menghambatnya. Coba kalau kita ingin menguji apakah masker kita bisa ditembus droplet berisi virus atau tidak? Hembuslah lilin atau matches pemantik api di depan masker. Apabila saat mengembus mati apinya, pertanda masker itu bisa meloloskan droplet berisikan virus karenanya masker tipis seperti skuba yang memang lebih tipis dan tak terlalu menyesakkan sekarang tidak dianjurkan lagi penggunaannya karena daya hambatnya yang rendah.
Pesan kedua adalah mencuci tangan, hal ini layaknya menjadi kebiasaan. Sejak kecil sebenarnya ibu selalu berpesan agar anak-anak tidak lupa setiap mau makan, cuci tangan dahulu dan berdoa. Sebenarnya apabila hal ini sudah terlatih dan menjadi kebiasaan, maka di kala beranjak dewasa akan terngiang-ngiang dan selalu dipraktikkan. Hal ini bukan hanya saat akan makan saja, namun juga saat akan masuk rumah sepulang dari bepergian. Di mana-mana sekarang telah tersedia tempat cuci tangan, maka cucilah sesering mungkin, khususnya apabila berada di tempat umum.
Pesan ketiga menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter untuk menghindari terbangnya droplet atau percikan air liur berisi virus nempel langsung ke tubuh kita dari orang yang kemungkinan ludahnya mengandung virus. Hal ini kerap membuat kita agak kikuk pada saat berhadapan dengan orang yang kita hormati baik karena lebih tua ataupun karena jabatannya sebagai atasan kita.
Namun layaknya semua menyadari, di masa pandemi ini suatu keharusan kita menjaga jarak aman ini sekalipun dengan kawan akrab, keluarga sendiri yang belum kita pastikan mereka tidak mengandung virus. Mungkin meski berjarak, bahasa tubuh kita sedikit membungkuk dengan memberi salam merapatkan tangan didada, menyapa dengan santun sudah mengisyaratkan komunikasi yang baik. Tidak harus bertatap muka langsung seperti dahulu, namun memfokuskan mendengar suara dari jarak jauh agar memahami maksud pembicaraan.
Teringat lagu ciptaan Nuskan Syarif yang berjudul Pasan Mandeh. Tertuang dalam bait demi bait pertamanya berbunyi sebagai berikut:
……Nan bak pasan mande,
…..usah takuik nak jo ombak gadang
…..Riak nan tanang oi nak kanduang
…..Mambaok karam…
Kalau boleh kita ibaratkan kondisi di tengah masyarakat dalam ancaman virus Covid-19, riaknya tenang-tenang tidak terlihat. Namun, mampu membunuh atau mambaok karam seperti lirik lagu di atas. Sempat di awal kejadian pandemi ini, salah seorang petinggi kita menyebut tak perlu khawatir dengan virus korona ini, belum sampai ke kita dan tidak perlu pakai masker medis karena masker saat itu tengah langka di pasaran.
Bahkan mereka yang sudah terkonfirmasi positif covid pun merasa biasa-biasa saja, tidak ada gejala yang terlalu berat, masih berkeliaran kemana-mana. Akibatnya banyak yang terkecoh, dan mendiamkan saja meskipun sudah mulai ada batuk-batuk dan demam, karena disangka hanya terkena flu biasa. Padahal, tiba-tiba keadaan bisa memburuk dan membawa kematian seperti kasus happy hypoxia yang kerap melanda orang yang terkonfirmasi positif, dengan gejala awal ringan namun semakin memburuk dan terjadi penurunan saturasi oksigen akhirnya masuk ICU dan butuh alat bantu nafas.
Pemikiran inilah yang layaknya diubah, untuk tidak memandang remeh terhadap gejala apapun yang terjadi selama pandemi covid ini. Memang tidak semua penyakit adalah covid, namun karena dalam kondisi pandemi maka kita tidak boleh melupakan kemungkinan covid sekecil apapun. Semakin ke sini semakin banyak manifestasi covid ini. Gejalanya bukan saja yang umum terjadi seperti demam, batuk pilek, sesak gejala infeksi saluran nafas, tapi juga bisa ke saluran cerna dan yang terakhir kasus terjadi kelemahan anggota gerak (hemiparese) seperti gejala stroke.
Ingatlah selalu pesan ibu, 3 M plus membaca doa (Bismillah) setiap melangkahkan kaki ke luar rumah, ataupun ketika memulai aktivitas selalu memohon perlindungan-Nya. Begitupun pasan mandeh untuk berhati-hati dan waspada selalu terhadap hal-hal yang tidak kasat mata namun membahayakan.
Mungkin pasan mandeh ini harus digiatkan lagi, via HP berupa pesan singkat dari orangtua khususnya ibu kepada anak-anaknya agar tak melupakan 3 M plus di atas. Apalagi dengan telah dikeluarkannya peraturan gubernur atau perwako yang memberi sanksi cukup berat kepada pelanggar protokol kesehatan. Lebih baik ibu -ibu dianggap nyinyir oleh anak-anaknya setiap kali mengirim pesan daripada harus membayar denda besar ataupun menanggung akibat dari terinfeksi virus ini.
Sekalipun kondisi pandemi ini belum jelas kapan akan berakhir, marilah kita saling meningkatkan kepedulian, saling mengingatkan agar tidak kecolongan. Mencegah jauh lebih baik dari pada harus menjalani hari-hari panjang yang membosankan diisolasi ataupun dikucilkan lingkungan. Mari budayakan hashtag #IngatPesanIbu dan teruskan pasan Mandeh ini kepada anak cucu kita semua agar melekat dalam ingatan mereka selalu untuk dilaksanakan. #BisakarenaBiasa, jadikan 3M Plus sebagai kebiasaan pada New Normal Life. (*) Editor : Novitri Selvia