Bang toyib, bang toyib,
tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang pulang
sepucuk surat tak datang, sadar-sadarlah abang inget anak istrimu
cepat cepatlah pulang semua rindukanmu
jika dijalan yang benar selamatkanlah ia
jika dijalan yang salah sadarkanlah dirinya
Tembang lawas yang disenandungkan Nita Talia ini sangatlah popular. Saking popularnya sampai sekarang tembang ini masih melekat ditengah masyarakat. Ada yang mengabadikan menjadi nama Café atau rumah makan dan ada pula yang melabelkannya ke sejumlah produk.
Syukurlah nasib anak rantau tak sama seperti bang Toyip. Di awal tahun 2022 rasa cemas itu sempat muncul seiring mewabahnya varian baru bernama Omicron. Walau tak seganas Delta, Omicron terbilang cukup cepat berpindahnya. Namun patut disyukuri Omicron tak seperti yang dicemaskan banyak orang. Bisa jadi karena vaksin sudah berjalan dan Heart Imunity sudah terbentuk sehingga kekebalan massal sudah mampu membentengi umat.
Kini anak rantau bersiap pulang mudik lebaran dan Ranah Minang pun bersiap menyambut kedatangan anak rantau. Tradisi tahunan yang sempat hilang dua tahun terakhir bisa ditunaikan. Rasa kangen dan rindu terhadap kampung halamanpun segera dapat dibayarkan. Rindu akan aroma kampung serta teman sepermainan bisa diwujudkan. Satu hal lagi, spirit pulang ka kampuang anak rantau untuk merefresh semangat juang juga dapat pula dilakukan.
Dalam kajian historikal mudik atau pulang kampung bukanlah sebatas mudiknya anak rantau selama lebaran. Mudik lebaran ini lebih jauh dan lebih dalam dari sebatas ritual itu. Banyak sekali nilai dan norma yang terpendam di dalamnya. Mulai dari nilai perjuangan hingga ke nilai ekonomi.
Mudik dan Ekonomi
Jangan pernah mengabaikan kekuatan mudik anak rantau. Ini fakta dan beberapa kali data sejarah membuktikan itu. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana negeri ini hancur porak poranda dihantam Gempa 30 September 2009 yang lalu. Gempa besar yang menelan ribuan korban jiwa itu tak saja meruntuhkan fisik bangunan, namun ekonomi masyarakatpun hancur berantakan.
Bencana yang terpaut beberapa hari setelah lebaran itu membuat anak rantau terketuk hati untuk kembali pulang. Kekuatan ekonominya bergulirkan dengan cepat dan nyata. Tajun dan sato sakaki menolong dunsanak di ranah membuat recovery ekonomi berjalan cepat. Buktinya, dalam hitungan bulan pascabencana ekonomi Sumbar tumbuh pesat. Kalau tak percaya silakan buka data. Jejak digital juga masih ada menyuguhkan.
Kini kekuatan itu akan kembali bergulir. Diprediksi lebih kurang 1,8 juta anak rantau akan mudik ke kampung. Jumlah sebanyak itu setara dengan lebih dari 30 persen penduduk Sumbar saat ini. Sungguh sebuah angka yang besar dan kue ekonomi yang besar.
Asumsinya sederhana saja. Jika satu anak rantau selama berada di kampung halaman menghabiskan Rp1.000.000 maka akan ada tambahan putaran uang lebih kurang Rp1,8 Triliun. Dana dari rantau itu akan bergulir dan terdistribusi dengan merata ke sumber sumber ekonomi di ranah. Baik dalam bentuk belanja barang ataupun belanja jasa karena menikmati indahnya alam Minangkabau. Sudahkan kita mempersiapkan itu?
Berbenahlah
Terkadang kita lupa dengan apa yang kita punya. Jamak setiap tahunnya anak rantau memanfaatkan waktu di kampung untuk berkunjung. Mulai dari berkunjung ke tempat saudara dibeda tempat hingga mengunjungi tempat tempat wisata sebelum balik ke perantauan.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diantisipasi agar umpatan dan cacian musiman tidak lagi menggaung tahun ini. Pertama antisipasi penumpukan kendaraan di jalan. Sudah dapat dipastikan kemacetan akan mewarnai perjalanan selama lebaran di Sumatera Barat.
Untuk jalur utama kemacetan seperti tahun tahun sebelumnya sudah dapat diperkirakan. Jalur dari Kota Padang ke Sarilamak Kabupaten Limapuluh Kota setidaknya ada beberapa titik rawan tumpukan kendaraan.
Di antaranya pertigaan Sarilamak menuju Harau Park, Ngalau Payakumbuh, Pertigaan Piladang, Padang Tarok, Pasar Baso, Padang Luar, Koto Baru, Padangpanjang, Sate Mak Syukur Padangpanjang, Silaing, Pemandian Anai, Malibo dan Kayu Tanam.
Sejumlah titik tadi merupakan titik tumpukan kendaraan dan sedapat mungkin sedari awal dilakukan antisipasi. Apakah dengan cara buka tutup atau seperti apa silakan disiapkan rekayasa lalu lintasnya.
Antisipasi kedua yang musti disiapkan adalah ketersediaan personil dalam mengatur lalu lintas. Selain menurunkan Dinas Perhubungan selaku leading sector di Pemerintahan provinsi, Instansi terkait di Kabupaten dan Kota juga sangat diperlukan. Sudahkah itu dikoordinasikan?
Satu lagi yang tidak kalah jauh lebih penting adalah koodinasi dan pelibatan Polri dengan beragam satuannya. Kehadiran petugas lalu lintas sangatlah penting. Pasalnya pengalaman tahun tahun sebelumnya sikap indisipliner pengemudi menjadi pengkontribusi terbesar pemicu kemacetan. Cara usang dengan memotong kanan antrian panjang terlalu sering ditemukan ketika terjadi kemacetan. Ini musti menjadi catatan serius dan musti dilakukan penindakan secara serius.
Ketiga, “pemalakan tarif”. Ini juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Jika kita belajar dari tahun tahun sebelumnya mudik lebaran selalu saja dijadikan ajang untuk berwisata. Sanak dari rantau dan di kampung halaman berpergian ke satu atau dua objek wisata.
Di sinilah hukum pasar tak lazim sering terjadi. Walau tak dibenarkan dan diizinkan untuk memberlakukan tarif parkir “tuslah” terkadang oknum tertentu masih tetap memberlakukan. Begitu juga ke tarif untuk masuk objek wisata. Prinsip oknum itu sederhana, ini peristiwa langka dan kejadian hanya sekali dalam setahun.
Keempat, sampah. Ini juga lazim dan banyak ditemukan ketiga terjadi keramaian. Sejumlah objek wisata biasanya menjadi langganan untuk penumpukan dan sebaran sampah ini. Sebagai negeri yang katanya mau berjuang menjadi destinasi wisata maka aspek kebersihan lingkungan ini juga cukup penting. Tak mungkin kita bicara wisata berkelanjutan kalau di objek wisata sendiri kelak ditemukan banyak sampah.
Sebetulnya masih banyak hal hal sederhana tapi fundamental lainnya yang musti disiapkan dari sekarang. Semuanya ini semata-mata untuk kemajuan dan kenyamanan kita bersama. Selamat datang anak rantau. Selamat mudik, kami tunggu kehadiranmu di ranah Minang ini. (***) Editor : Hendra Efison