Duduk di kursi empuk dengan ruangan bependingin. Makanya banyak orang tertarik jadi calon legislatif. Syukur-syukur jika dipinang pengurus partai politik jelang pemilu. Seperti dialami Susi (bukan nama sebenarnya). Bagaimana ceritanya?
Sejak kenal dengan salah satu pengurus partai politik dan ditawari jadi caleg setahun lalu, Susi menyambut dengan tangan terbuka. Walau hanya pemenuh kuota tak masalah baginya. Masuk partai dan jadi caleg pengalaman baru bagi Susi. Tapi tak sulit setelah ia jalani sampai namanya ditetapkan jadi DCT.
Untuk anggota DPRD kota, Susi dapat nomor urut 2. Sedangkan nomor 1 laki-laki. Walau dibilang wanita pemenuh kuota tapi bagi Susi tak masalah. Apalagi setelah ia mendapatkan nomor urut kecil. Jarang-jarang ada partai mau menempatkan wanita pada nomor urut kecil. Apalagi sejak marak politik identitas.
Jika bapaknya pendiri partai, maka anaknya pun diarahkan untuk terjun kedunia politik. Tentu si anak akan ditempat pada urutan lima besar. Sisanya bagi orang luar. Kader yang dinilai loyal dan bisa membesarkan partai.
Tapi terkecuali bagi Susi. Pertama terjun ke panggung politik langsung dapat tempat yang strategis. Di ke pengurusan partai ia pun ditempatkan pada barisan terdepan.
“Kebetulan saya di ring 1 pengurus partai, jadi tiap hari sibuk,” tutur Susi saat mentraktir alumni SMA-nya. Selanjutnya, setelah perut kenyang, ajakan untuk memilih dirinya saat pencoblosan nanti pun dilancarkan.
“Teman-teman semua terima kasih atas kehadirannya. Nanti tolong pilih saya di bilik suara ya,” pintanya.
“Oh itu namanya tak ada makan siang yang gratis kawan,” ujar seorang temannya.
“Yah bukan begitu kawan. Kalau tidak teman-teman semua siapa lagi yang mau bantu saya? Jawabnya menghiba.
“Baiklah, tapi jangan ada paksaan atau sogokan ya. Itu tak boleh,” ucap temannya itu.
Alhasil, sejak mendaftar, hari-hari Susi sangat sibuk. Saking sibuknya mengurus partai, kedai sarapannya jadi tutup. Sebelum jadi caleg, Susi hanyalah penjual sarapan di kedai kecil dekat rumahnya. Saban hari ia disibukkan dengan jualannya.
Sehingga tak terbersit di pikirannya bisa jadi caleg. Namun hari-hari dan kesibukannya berubah setelah ada seorang pengurus sebuah partai politik menawarinya jadi caleg. Pria itu adalah pelanggan di kedainya.
Awalnya Susi mengira pria itu berseloroh saja karena ia suka bercanda. Susi sih, iya-iya saja waktu itu. Partai yang dipimpin bapak itu tergolong partai baru. Belum banyak orang kampung yang tahu. Apalagi tergabung jadi simpatisan dan kader. Namun pemimpinnya di tingkat pusat orang bonafit kelas wahid.
Ketika diminta dengan serius Susi pun menyambut dengan tangan terbuka. Maka sejak dimasukkan jadi pengurus tingkat kota Susi jadi sibuk. Wara-wiri sana sini. Kesibukan Susi setelah masuk DCT semakin menjadi-jadi.
Tiap hari ia harus ngantor ke kantor DPD partai tersebut. Susi bilang ia termasuk pengurus ring satu. Jadi mesti fokus tak bisa sambilan buka warung. Makanya ibu dua anak yang sudah remaja itu terpaksa menutup warungnya. Karena tak terurus.
Lantas dari mana Susi dapat uang operasional? Kata Susi ada dana dari partai maupun kader yang duduk di kursi legislatif. Makanya Susi enjoy saja. Apalagi ada bayang-bayang bisa duduk di kursi legislatif karena dapat nomor urut kecil.
Karena sudah “naik kelas”, penampilan Susi kini pun berkelas. Berbeda jauh ketika masih jualan di warung yang saban hari hanya pakai daster dan berdandan seadanya. Kini Susi pagi-pagi sudah mandi, dandan plus make up dan pakai pakaian bagus layaknya orang kerja kantoran.
Ya, Susi tiap hari ngantor ke kantor partai. Tidak hanya pakai motor, tapi sudah pakai mobil. Susi tak ingin kelihatan kere setelah nyaleg. Kalau terlihat biasa saja, tentu masyarakat memandang sebelah mata.
Caleg harus punya modal untuk meraih simpati dan mendulang suara. Modal penampilan, intelektual juga isi kantong. Susi paham sekali itu. Makanya, kini ia berubah 180 derajat. Susi semakin rajin menyambangi tetangga dan teman-temannya.
Memberi bantuan sebisanya. Ia juga bertambah ramah kepada siapa saja. Kata orang pencitraan. Ya, memang harus dilakukan oleh seoarang caleg. Namun sebanyak yang suka, ada juga yang mencemooh. Meremehkan Susi. Mungkin juga karena iri. Tapi Susi bergeming. Ia tetap fokus pada tujuannya. (adv) Editor : Novitri Selvia