Rini dan Rudi (bukan nama sebenarnya) sebelumnya merupakan pasangan kekasih. Mereka sudah berpacaran sejak di bangku perkuliahan. Hampir 5 tahun lamanya mereka menjalin hubungan. Namun karena perbedaan prinsip, mereka memutuskan hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing.
Rudi kini bekerja di sebuah perusahaan properti ternama. Sebagai Manager SDM. Sementara Rini belum memiliki pekerjaan tetap.
Ia sering berganti-ganti pekerjaan. Pernah bekerja di perbankan, marketing di perusahaan kosmetik, supervisor di perusahaan elektronik. Dan sekarang bekerja di perusahaan properti. Ia baru saja diterima bekerja di perusahaan itu.
Rini memang sudah lama memimpikan untuk bekerja di perusahaan ini. Ia yakin akan betah bekerja di sini, karena memiliki kemampuan di bidang properti. Namun, ada satu hal yang membuat Rini merasa gugup dan cemas. Salah satu manager di perusahaan itu adalah Rudi, mantan pacarnya.
Sejak putus berpacaran, Rini sudah berusaha untuk move on dari Rudi. Ia pun sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Dan siap untuk memulai hidup baru. Namun, pertemuannya dengan Rudi membuat segalanya menjadi rumit.
Rini dan Rudi akhirnya bertemu di ruang rapat. Rini berusaha untuk tidak menatapnya, tetapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Rudi merasakan itu. Ia lalu tersenyum kepada Rini. Ia berjalan menghampiri Rini dan menyodorkan tangannya. “Selamat bergabung. Semoga betah bekerja di sini,” kata Rudi.
“Aku senang bisa bekerja denganmu,” sambung Rudi.
Rini tampak gugup. Ia berusaha tersenyum balik. “Terima kasih,” jawabnya. “Aku juga senang bisa bekerja di sini,” tuturnya.
Rini dan Rudi duduk di kursi mereka masing-masing. Rapat pun dimulai. Rini berusaha untuk fokus pada rapat, tetapi ia tidak bisa berhenti memikirkan Rudi.
Rudi adalah cinta pertamanya. Bagi Rini, Rudi adalah sosok yang selalu ada untuknya, baik dalam suka maupun duka. Setelah rapat selesai, Rudi mengajak Rini untuk makan siang bersama. Tapi Rini menolaknya. Ia mengatakan masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Rini kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi, ia tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan Rudi. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya. Perasaan Rini campur aduk. Ia senang karena bisa bekerja di perusahaan yang diimpikan. Namun, ia juga gugup karena harus bekerja dengan mantan pacarnya.
Rini memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada sahabatnya, Titi. Titi tau persis kalau Rini pernah berpacaran dengan Rudi. Rini sering curhat kepadanya. “Aku harus bagaimana? Rudi hadir lagi dalam hidupku,” kata Rini.
“Jujur, aku masih mencintai Rudi, tetapi aku juga tidak ingin menyakiti perasaannya,” sambung Rini.
Titi tersenyum. “Aku mengerti perasaanmu. Tapi, kamu harus berani menghadapi kenyataan. Kamu harus tahu apakah Rudi masih mencintaimu atau tidak,” jawab Titi.
Rini mengangguk. Ia harus berani menghadapi kenyataan. Keesokan harinya, Rini memberanikan diri mengajak Rudi untuk bertemu. Ia mengajaknya makan malam bersama.
Rudi menerima ajakan itu. Mereka bertemu di sebuah restoran. Mereka mengobrol banyak hal di malam itu. Membicarakan masa lalu dan rencana masa depan. Rini menyampaikan permohonan maaf. Karena dulu pernah menyakiti Rudi.
Ia menyesal karena telah memutuskan hubungan mereka dulu. Rini juga mengaku masih mencintai Rudi. Ia mengatakan tidak bisa melupakan Rudi. Rudi terkejut. Ia tak menyangka kalau Rini masih mencintainya. Singkat cerita, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali bersama. Sebulan sejak pertemuan malam itu, Rudi dan Rini akhirnya menikah. Keduanya kini hidup bahagia. (Eri Mardinal) Editor : Novitri Selvia