Pemulihan Sawah di Padang, Soal Produktivitas Petani Butuh Perhatian


PADEK.JAWAPOS.COM — Usman, 70 tahun, tak ingin menyerah pada keadaan. Setelah banjir bandang menerjang Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada November 2025, petani ini perlahan membersihkan sawahnya dari material banjir agar kembali bisa ditanami.
Pekerjaan itu tidak mudah. Dengan bantuan gerobak dan cangkul yang diberikan pemerintah, ia membersihkan lahan sedikit demi sedikit selama hampir dua bulan terakhir. Pekerjaan dilakukan sendiri dan diselingi aktivitas lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini sawahnya kembali digarap. Namun, hasilnya belum seperti sebelum bencana. Dari empat petak sawah yang dikelolanya, produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 12 karung beras, kini tinggal tiga karung.
“Alhamdulillah, dari hasil pertanian ini sudah mencukupi kebutuhan keluarga, tapi tidak ada lagi yang bisa dijual,” kata Usman saat menceritakan kondisi sawahnya setelah bencana.
Bagi Usman, sawah bukan sekadar lahan untuk bercocok tanam. Hasilnya menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga. Melalui usaha bertani, ia juga telah membangun rumah di atas tanah ulayat milik istrinya.
Karena itu, meski hasil panen menurun, ia tetap berusaha mengolah sawah sambil mencari tambahan penghasilan dengan membantu pekerjaan di heler padi.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, yang juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dalam Rapat Pemulihan Pascabencana Sumatera di Jakarta pada Rabu (21/10/2026), menegaskan bahwa program pemulihan yang telah direncanakan tidak boleh dikurangi hanya karena adanya penyesuaian anggaran.
“Kegiatannya enggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat,” kata Tito.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan program rehabilitasi dan rekonstruksi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat terdampak.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




