
PADEK.JAWAPOS.COM — Penguatan tebing Sungai Batang Air Dingin mulai memberi rasa aman bagi warga Lumin Park, Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Namun, masyarakat yang berulang kali terdampak banjir masih berharap normalisasi sungai dipercepat dan dilanjutkan dengan pembangunan tanggul agar permukiman lebih terlindungi.
Desmaniar (61), warga Lumin Park, mengatakan banjir berulang sejak 2025 semakin parah. Seperti saat banjir yang kembali datang pada Oktober 2026, satu rumah di kawasan Lumin Park Dua hanyut. Sejumlah rumah lain, termasuk miliknya, juga terdampak.
“Sebagai masyarakat, sejak ada pengerjaan kami merasa lebih aman. Kemarin sudah ada pengerjaan penguatan tebing sungai, dan itu sudah lumayan mengurangi dampak,” kata Desmaniar.
Menurut dia, tanggul sangat penting karena aliran air dari hulu kerap tidak terbendung. Warga berharap pekerjaan normalisasi berjalan lebih cepat dan pembangunan tanggul segera dilakukan untuk mengurangi risiko banjir yang kembali mengancam permukiman.
“Kami berharap proses normalisasi bisa berjalan lebih cepat, termasuk dilakukan pembangunan tanggul supaya bisa menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Apalagi nanti kalau dilakukan pembetonan dan pembangunan tanggul, semoga tidak ada lagi dampak bencana yang menimpa kami,” ujar Desmaniar.
Penanganan Dipercepat dari Hulu
Pelaksana Tugas Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera Barat, Reski Wahyudi, mengatakan penanganan pascabencana dilakukan melalui tahapan tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi. Persiapan teknis, mulai dari studi kelayakan, desain rinci, hingga kajian lingkungan, dipadatkan agar pekerjaan permanen dapat dimulai lebih cepat.
Reski menyebut penanganan permanen semula ditargetkan mulai November 2026. Namun, karena banjir berulang di Kota Padang, pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi sudah dimulai lebih awal pada Oktober 2026.
Untuk Batang Air Dingin, BWS V menyiapkan penanganan yang tidak hanya berupa pengerukan sedimen. Tapi mencakup pembangunan check dam, sand pocket, serta dua titik revetment. Pengendalian sedimen di bagian hulu dibutuhkan agar material tidak kembali turun dan menumpuk di aliran sungai ketika hujan.
Reski mengatakan normalisasi aliran sungai di Kota Padang mencakup panjang 5,7 kilometer untuk pengerukan material pasir. Sebanyak 30 alat berat telah diterjunkan dan jumlahnya dapat ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





