Kegiatan tablig akbar ini diselenggarakan oleh Bagian Kesra Setko Padang bekerja sama dengan Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Kota Padang. Hadir dalam acara ini Wali Kota Padang Hendri Septa, Wakil Ketua DPRD Kota Padang Amril Amin, dan sejumlah kepala OPD.
Wako Hendri Septa dalam sambutannya mengatakan kehadiran Ustad Yahya Waloni adalah rahmat dan berkah bagi warga Kota Padang, terkhusus keluarga besar PKDP Kota Padang.
“Kehadiran Ustad Yahya Waloni mengobati kerinduan kita akan sosok ulama kharismatik. Banyak ilmu agama yang dapat kita petik, termasuk pengalaman kehidupan beliau mulai menjadi mualaf, hingga menjadi sebagai seorang da’i atau ustad,” ungkap Hendri Septa.
Ia pun berharap melalui kegiatan tablig akbar ini semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan warga Kota Padang kepada Allah SWT, serta membawa warga pada kehidupan yang lebih baik lagi ke depan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Padang Amril Amin yang juga Ketua PKDP Kota Padang, mengucapkan terima kasih kepada Pemko Padang yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tablig akbar tersebut.
“Harapan kita melalui kegiatan ini semakin meningkatkan ukhuwah dan tali silaturahmi bagi keluarga besar PKDP Kota Padang khususnya, dan warga Kota Padang umumnya. Semoga PKDP Kota Padang semakin solid, kompak dan terus melakukan hal-hal yang positif,” harap pria yang akrab disapa Aciak ini.
Ia juga berharap kepada para hadirin dan keluarga besar PKDP Kota Padang dapat mengambil hikmah dan inti sari dari kegiatan tablig akbar ini. “Ceramah Ustad Yahya Waloni sering kita dengar di media digital, sekarang kita bersyukur dapat mendengarkannya secara langsung,” imbuhnya.
Mengawali tausiahnya, Ustad Yahya Waloni terlebih dahulu menyapa hadirin yang mendengarkan tausiah baik secara langsung maupun yang menyaksikan secara live streaming di Padang TV (grup Padang Ekspres). Selama lebih kurang 60 menit penceramah kelahiran Manado, Sulawesi Utara 30 November 1970 itu pun menyampaikan pesan dakwahnya.
Diantaranya mengajak pemerintah dan warga Kota Padang untuk terus bersinergi dalam menunjang aktifitas keagamaan. Dilanjutkan dengan materi pembangunan mental bagi masyarakat, khususnya generasi muda agar terhindar dari segala macam pengaruh negatif yang datang dari berbagai penjuru.
Terakhir, Ustda Yahya Waloni juga mengungkapkan kisah perjalanan kehidupannya. Dilahirkan sebagai penganut Kristiani dan merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Yahya Waloni muda tergolong nakal, dan memiliki bekas tato di tubuhnya, namun pemegang gelar Doktor dari Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado yang pernah menjadi pendeta ini, memilih menjadi mualaf pada tahun 2006 silam. (eri) Editor : Novitri Selvia