Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pedagang Pasar Raya Tinggalkan Los karena Pembeli Sepi

Silvina Fadhilah • Jumat, 23 Mei 2025 | 13:12 WIB

Kondisi Pasar Raya Padang yang tidak tertata rapi karena banyaknya pedagang yang berjualan tidak pada tempatnya, kemarin.
Kondisi Pasar Raya Padang yang tidak tertata rapi karena banyaknya pedagang yang berjualan tidak pada tempatnya, kemarin.
PADEK.JAWAPOS.COM–Upaya Dinas Perdagangan Kota Padang dalam menata ulang ruang pasar, khususnya di kawasan Pasar Raya Blok II, belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Meskipun fasilitas los di dalam blok telah disediakan, para pedagang sayur tetap memilih berjualan di area luar, khususnya di bahu jalan sekitar pasar.

Pantauan Padang Ekspres Kamis (22/5), hampir tidak ada aktivitas perdagangan sayur di dalam los Pasar Raya Padang Blok II. Justru area luar pasar dipenuhi pedagang yang menggelar dagangan mereka beralaskan tikar di trotoar dan pinggir jalan.

Pasar Raya Padang yang semestinya menjadi pusat perdagangan modern dan tertib, justru tampak semrawut. Kondisi kumuh dan tidak tertata menjadikan pasar utama ini belum layak menyandang predikat sebagai pusat perdagangan kota modern.

Yasmaini, 60, akrab disapa Yas, seorang pedagang sayur yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Raya Padang mengaku enggan menempati los yang disediakan. Ia memilih tetap berdagang di emperan dengan alasan ekonomis.

“Kami ini bukan nggak mau ikut aturan, tapi kalau disuruh masuk ke dalam, nggak ada pembeli. Di luar sini pembeli lebih cepat datang. Mereka lebih suka belanja sambil lewat,” katanya sambil mengatur dagangan seperti bayam, kangkung, dan cabai yang ditata di atas tikar plastik.

Yas juga menyebutkan, untuk berdagang di area luar, ia harus membayar sewa tempat antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari, di luar biaya lain seperti kebersihan dan keamanan.

Meski kondisi berjualan jauh dari layak, seperti panas terik dan tidak ada perlindungan dari hujan, ia merasa tetap diuntungkan karena dagangannya laku.

Senada dengan itu, Tuti Sumarni, 49, pedagang cabai merah, mengaku pernah mencoba pindah ke dalam los. Namun, ia kecewa karena pembeli tidak kunjung datang.

“Kalau di dalam memang lebih tertib, tapi dagangan susah laku. Pernah nyewa los, tapi habisnya malah rugi. Sekarang mending tetap di luar, walaupun seadanya,” ujarnya.

Menurut Tuti, banyak pembeli yang menerapkan pola belanja cepat, di mana mereka ingin membeli dengan praktis tanpa turun dari kendaraan. Letak los yang berada di dalam pasar membuat banyak pembeli malas masuk hanya untuk membeli beberapa ikat sayur atau cabai.

“Orang sekarang maunya cepat, naik motor, tinggal berhenti sebentar, belanja, lalu pergi. Kalau semua harus masuk ke dalam, mereka nggak mau repot. Itu juga yang bikin kami tetap di sini,” tambah Tuti.

Fenomena ini menandakan bahwa persoalan penataan pasar tidak hanya sebatas fisik bangunan atau lokasi berjualan, tetapi juga menyangkut perilaku konsumen dan strategi aksesibilitas ruang dagang.

Para pedagang berharap, Pemerintah Kota Padang dapat menyediakan zona dagang khusus bagi pedagang kecil yang lebih bersih, aman, namun tetap mudah diakses pembeli. Menurut mereka, tanpa solusi yang mempertimbangkan kenyamanan pembeli dan pedagang, upaya penataan pasar hanya akan terus menjadi formalitas tanpa implementasi yang berdampak nyata. (cr1)

Editor : Adetio Purtama
#Pedagang Pasar Raya Padang #los #pembeli sepi