Kondisi ini kembali mencuat pada Kamis (11/12), seiring banyaknya kios yang tutup permanen dan para pedagang lama yang memilih hengkang.
Para pedagang yang sebelumnya menggantungkan hidup pada keramaian Terminal Lintas Andalas kini mengalami penurunan omzet drastis. Tidak sedikit dari mereka yang memutuskan pindah ke luar kota, seperti Bukittinggi dan Solok, demi mencari lokasi berdagang yang lebih menjanjikan.
Perubahan ini merupakan dampak langsung kebijakan Pemerintah Kota Padang pada masa itu yang memindahkan simpul transportasi utama dari jantung kota.
Terminal Lintas Andalas, yang beroperasi sejak sekitar 1972 hingga 2003, selama puluhan tahun menjadi pusat pergerakan ekonomi masyarakat, menghubungkan Padang dengan daerah pedalaman Minangkabau.
Ali Harmon, 50, menjadi satu-satunya pedagang burung yang masih bertahan di kawasan Padang Teater Pasar Raya. Ia menyebut seluruh rekan-rekannya telah menutup usaha.
“Semua sudah tutup. Pedagang di belakang Plaza Andalas itu sudah pindah. Banyak yang ke Bukittinggi. Jelas ini imbas dari jauhnya terminal,” ujar Ali, Rabu (12/11).
Keluhan serupa datang dari Zulhendri, 53, tukang servis elektronik yang sudah puluhan tahun menggantungkan ekonomi keluarga di kawasan tersebut. Ia mengingat masa kejayaan Pasar Raya ketika terminal masih beroperasi.
“Dulu kami sangat ramai. Sebelum terminal dipindahkan, sehari bisa dapat untung besar, sampai bisa beli emas. Perputaran uang cepat sekali,” kenangnya, Kamis (11/12). (cr3)
Editor : Adetio Purtama