Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Indra Swandi, Pemulung di Pantai Padang: Bertahan Meski Didera Struk dan Kesepian

Mengki Kurniawan • Senin, 22 Desember 2025 | 10:21 WIB

Indra Swandi, pemulung di kawasan Pantai Padang, sedang duduk beristirahat, Minggu (21/12).
Indra Swandi, pemulung di kawasan Pantai Padang, sedang duduk beristirahat, Minggu (21/12).
Terik matahari yang menyengat kawasan Pantai Padang, Minggu (21/12), tak sedikit pun menyurutkan langkah Indra Swandi, 53. Dengan tangan kanan yang terkulai lemas dan langkah kaki yang tertatih, pria paruh baya itu tetap menyusuri tumpukan sampah, memunguti botol plastik satu per satu demi menyambung hidup. Seperti apa kisahnya?

Mengki Kurniawan, Samudera—

Indra, warga Seberangpadang, Kecamatan Padang Selatan, menjadi potret nyata ketegaran manusia yang diuji kehidupan tanpa henti. Selama 15 tahun terakhir, ia menjalani profesi sebagai pemulung. Padahal, pada masa mudanya, Indra sempat merantau ke Batam dan bekerja sebagai petugas keamanan dengan penghasilan yang relatif stabil.

Takdir berubah drastis ketika serangan struk melumpuhkan sebagian tubuhnya. Penyakit tersebut membuat sisi kanan tubuhnya tidak lagi berfungsi normal. Kehilangan kemampuan fisik itu memaksanya meninggalkan pekerjaan lamanya dan pulang ke kampung halaman dalam kondisi yang serba terbatas.

Setiap hari, aktivitas Indra dimulai sejak pagi hingga larut malam, bahkan kerap berakhir sekitar pukul 22.00 WIB. Dengan mengandalkan sepeda tua yang berkarat, ia menyusuri rute panjang dari kawasan Pantai Padang hingga GOR Haji Agus Salim. Jarak itu ia tempuh dengan sisa tenaga yang dimilikinya, demi mengumpulkan botol plastik bekas yang kelak ditukar dengan uang.

Kondisi fisik Indra sangat memprihatinkan. Selain tangan kanan yang sama sekali tak bisa digerakkan, ia juga mengalami gangguan bicara atau disartria. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar berat dan terbata-bata.

Namun demikian, Indra tetap berusaha tersenyum kepada siapa pun yang ditemuinya di jalan, seolah ingin menunjukkan bahwa semangat hidupnya belum sepenuhnya padam.

“Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Mau bagaimana lagi, hidup harus tetap berjalan meski terasa sangat berat,” ujar Indra dengan suara parau saat ditemui di sela aktivitasnya, Minggu (21/12).

Ucapan singkat itu ia sampaikan dengan susah payah. Namun, dari sorot matanya terpancar tekad untuk tetap bertahan meski hidup terus mengujinya.

Persoalan ekonomi menjadi beban berat lainnya. Indra mengaku tidak pernah mengetahui secara pasti berapa nilai botol plastik yang ia kumpulkan. Ia tidak memahami hitungan timbangan atau harga pasaran. Setiap kali menyetorkan hasil pulungannya ke pengepul, ia hanya menerima uang berapa pun yang diberikan tanpa bertanya atau menawar.

Penghasilan yang diperolehnya tidak menentu dan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari. Keinginan untuk berobat secara rutin ke rumah sakit menjadi harapan yang sulit terwujud. Biaya transportasi dan terapi struk jauh melampaui kemampuan finansialnya yang kerap hanya tersisa beberapa lembar uang ribuan.

Di balik keterbatasan itu, Indra menyimpan harapan besar untuk sembuh. Ia ingin tangannya kembali berfungsi dan bicaranya kembali lancar agar bisa bekerja dengan lebih layak. Namun tanpa penanganan medis yang memadai, kondisi struk yang dideritanya perlahan semakin memburuk.

Ketegaran Indra menjadi cermin bagi banyak orang. Ia tidak memilih meminta-minta di persimpangan jalan, melainkan tetap bekerja dengan cara yang ia mampu, meski tubuhnya terus memberi sinyal kelelahan. Di atas sepeda tuanya, Indra memikul beban hidup yang luar biasa berat tanpa menyalahkan siapa pun.

Kini, harapannya sederhana. Ia berharap ada uluran tangan dari para dermawan yang tergerak untuk membantunya menjalani pengobatan dan terapi. Bagi Indra, setiap bantuan yang diberikan adalah harapan baru untuk keluar dari belenggu kelumpuhan yang telah menemaninya selama belasan tahun. (*)

Editor : Adetio Purtama
#pemulung #Struk #kesepian #pantai padang