Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Takut Longsor Berulang, Warga Tabiang Banda Gadang Minta Sungai segera Didam

Suyudi Adri Pratama • Senin, 5 Januari 2026 | 16:56 WIB

Warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo memasang bendera putih di aliran sungai.
Warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo memasang bendera putih di aliran sungai.
PADEK.JAWAPOS.COM—Rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat memunculkan kelelahan dan kecemasan mendalam di tengah masyarakat.

Di Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, warga bahkan memasang bendera putih sebagai simbol keputusasaan sekaligus bentuk desakan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata.

Pantauan di lapangan, Senin (5/1/2026), dua bendera putih terlihat berkibar di kawasan Komplek Griya Permata. Pengibaran bendera tersebut dilakukan warga sebagai bentuk keresahan atas ancaman bencana susulan, menyusul banjir dan air galodo yang kembali menerjang kawasan itu pada awal Januari 2026.

Salah seorang warga, April Legianti (52), mengatakan warga berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah, terutama pengedaman atau penguatan tebing sungai di sekitar permukiman. Menurutnya, jika hujan deras kembali terjadi, abrasi dan longsor susulan dikhawatirkan akan semakin meluas.

“Kami tidak ingin satu komplek ini hilang. Rumah saya di ujung sana sudah hilang, dan kami sudah lebih dari 15 tahun tinggal di sini. Kalau hujan deras seperti kemarin, kami takut pengikisan tanah terjadi lagi, bahkan masjid juga bisa ikut hilang,” ujarnya.

April menjelaskan, pemasangan bendera putih dimaksudkan agar pemerintah segera merespons aspirasi warga. Pasalnya, sejak banjir besar pada akhir November 2025, warga belum sepenuhnya pulih dan kembali harus membersihkan lumpur akibat bencana susulan.

“Sejak 27 November kami belum selesai membersihkan rumah, sekarang harus membersihkan lumpur lagi. Bantuan yang kami terima kemarin juga tidak luput dari lumpur. Sampai kapan kami harus mengungsi dan hidup dalam rasa was-was,” katanya.

Ia menambahkan, sekitar 80 persen warga telah mengontrak rumah sementara setelah menerima bantuan insentif akibat tempat tinggal mereka rusak atau hilang.

Namun, warga menilai solusi jangka panjang berupa pengedaman aliran sungai menjadi kebutuhan paling mendesak. “Kami hanya berharap tempat ini segera didam. Itu yang paling kami butuhkan,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Eri (53), warga lainnya yang mengaku masih mengalami trauma akibat bencana. Menurutnya, kondisi geografis kawasan tersebut masih sangat rentan terhadap amblas susulan.

“Bendera putih ini bentuk menyerahnya masyarakat. Kondisi sekarang masih rawan, karena itu kami mendorong agar proses pengedaman segera dilakukan,” ucapnya.

Eri juga mengungkapkan kerugian yang dialaminya akibat bencana, termasuk kehilangan sebagian besar ternak peliharaannya. Dari 18 ekor ayam dan kambing yang dimiliki, kini hanya tersisa tiga ekor kambing.

“Ayam habis semua, kambing tinggal tiga. Kami tidak mau mempersulit, tapi jika ada bantuan terkait ternak, tentu sangat kami harapkan,” pungkasnya. (yud)

Editor : Adetio Purtama
#longsor #Tabing Banda Gadang #Didam #padang #sungai