Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Empat Bulan Terputus, Jembatan Koto Panjang di Pauh Dibangun Darurat oleh Warga

Mengki Kurniawan • Jumat, 6 Maret 2026 | 13:22 WIB

Kondisi jembatan Koto Tangah Limau Manis, Pauh yang sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, Jumat (6/3/2026).
Kondisi jembatan Koto Tangah Limau Manis, Pauh yang sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, Jumat (6/3/2026).
PADEK.JAWAPOS.COM–Kerinduan warga Koto Panjang, Kelurahan Limau Manih, Kecamatan Pauh, terhadap akses jalan yang lebih cepat mulai sedikit terobati. Jembatan Koto Panjang yang sebelumnya putus total akibat bencana galodo atau banjir bandang pada November 2025 lalu kini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua.

Pantauan di lokasi, Jumat (6/3/2026), jembatan tersebut memang belum pulih sepenuhnya. Struktur yang ada saat ini masih bersifat darurat dengan konstruksi sederhana hasil inisiatif dan gotong royong masyarakat setempat.

Jembatan darurat itu dibangun menggunakan material kayu dengan lebar sekitar satu meter. Meski tampak kontras dengan sisa pondasi beton jembatan lama yang rusak di sekitarnya, konstruksi kayu tersebut cukup kuat menopang sepeda motor yang melintas secara bergantian.

Menurut salah seorang warga, Januar (53), pembangunan jembatan tersebut murni merupakan swadaya masyarakat. Warga secara sukarela mengumpulkan bahan dan tenaga demi memulihkan akses mobilitas yang sangat dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari.

“Jembatan ini sangat penting bagi kami. Ini akses tercepat masyarakat Limau Manis kalau mau keluar ke arah jalan besar Jalan Dr. Moh. Hatta,” ujar Januar.

Ia menjelaskan, jembatan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan kawasan permukiman di Koto Panjang dengan jalan utama di wilayah tersebut. Tanpa jembatan ini, warga harus menempuh perjalanan yang lebih jauh untuk mencapai pusat aktivitas.

Sebelumnya, warga terpaksa memutar melalui kawasan Universitas Andalas atau turun jauh ke arah Cupak Tangah untuk mencapai jalan utama. Jalur memutar tersebut membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama serta meningkatkan konsumsi bahan bakar kendaraan.

“Kalau jembatan ini tidak ada, kami harus berputar jauh ke Unand atau lewat bawah ke Cupak Tangah. Itu jelas memakan lebih banyak waktu dan bensin. Bagi kami yang setiap hari lewat sini, itu sangat terasa berat,” tambahnya.

Meski saat ini sudah bisa dilewati kendaraan roda dua, warga masih menyimpan kekhawatiran. Material kayu yang digunakan memiliki keterbatasan daya tahan, terutama jika kembali terjadi hujan deras di kawasan hulu sungai di Kecamatan Pauh.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah segera melakukan pembangunan jembatan secara permanen agar akses transportasi dapat kembali normal seperti sebelum bencana galodo melanda.

“Harapan kami tentu pemerintah segera memperbaiki jembatan ini menjadi lebih bagus dan permanen. Kami ingin jembatan ini nantinya bisa dilalui lagi oleh kendaraan roda empat seperti dulu,” pungkas Januar. (cr3)

Editor : Adetio Purtama
#empat bulan #Jembatan Koto Panjang #Pauh #dibangun