Pantauan Padek.jawapos.com di kawasan tersebut pada Senin, 6 Februari 2026, menunjukkan aktivitas masyarakat yang semakin beragam seiring meningkatnya arus kunjungan wisatawan.
Di sepanjang jalur menuju kawasan hutan pinus, warga membuka lapak sederhana yang menawarkan makanan ringan, minuman hangat, serta berbagai produk lokal khas nagari.
Arus pengunjung yang relatif stabil membuat kawasan wisata ini tidak lagi bergantung pada momen tertentu, melainkan mulai hidup sepanjang waktu kunjungan.
Warga Rasakan Langsung Dampak Ekonomi Wisata
Eman (48), warga Sikabu-Kabu yang berjualan di sekitar kawasan wisata, mengatakan geliat ekonomi mulai terasa sejak pengelolaan kawasan dilakukan lebih terarah dan didukung kehadiran Kafe Folka.
Menurut Eman, wisatawan kini tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga menghabiskan waktu lebih lama di kawasan tersebut, sehingga berdampak langsung pada dagangan warga.
“Sekarang orang datang bukan hanya foto-foto, tapi juga duduk lama. Itu yang bikin dagangan kami ikut jalan,” kata Eman.
Ia menilai wisata yang memberi ruang keterlibatan langsung bagi masyarakat sekitar membuat manfaat ekonomi terasa lebih merata.
“Bukan cuma kafe yang ramai, tapi warga juga kebagian rezeki,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Jaka (34), pedagang lain di kawasan wisata Hutan Pinus Sikabu-Kabu.
Menurut Jaka, perubahan wajah kawasan wisata telah membuka sumber penghasilan baru bagi banyak keluarga di nagari, mulai dari berdagang hingga jasa pendukung wisata.
“Sekarang ada yang kerja di kafe, ada yang jaga parkir, ada yang jualan. Setiap akhir pekan, suasananya hidup,” kata Jaka.
Serap Tenaga Lokal dan Perpanjang Waktu Kunjungan
Selain membuka ruang usaha bagi pedagang kecil, Kafe Folka juga menyerap tenaga kerja lokal, khususnya generasi muda di Sikabu-Kabu.
Anak-anak nagari dilibatkan sebagai barista, pengelola kawasan, kru kebersihan, hingga pengisi kegiatan seni di panggung terbuka.
Pola ini dinilai mampu membuka lapangan kerja di kampung halaman sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Dari sisi pengunjung, kehadiran Kafe Folka dinilai memperpanjang durasi kunjungan tanpa menghilangkan nuansa alam kawasan hutan pinus.
Abdi (23), salah seorang pengunjung, mengatakan kawasan wisata terasa lebih hidup karena adanya simpul aktivitas yang melibatkan warga sekitar.
“Tempatnya nyaman, menyatu dengan alam. Yang menarik, warga sekitar juga ikut terlibat,” ujar Abdi.
Kawasan wisata ini juga dilengkapi panggung pentas terbuka dan fasilitas api unggun, yang membuat pengunjung betah hingga sore dan malam hari, sekaligus meningkatkan konsumsi di lapak warga. (cr7)
Editor : Hendra Efison