Kegiatan bernama Ngabubu-Read Batang Agam ini menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk membaca, berdiskusi, dan berbagi gagasan.
Lapak baca digagas oleh Ali bersama teman-temannya yang peduli terhadap literasi. Dengan tikar dan meja sederhana, mereka menata beberapa buku untuk menghadirkan suasana belajar santai di ruang terbuka.
Ali menjelaskan, tujuan kegiatan ini adalah menumbuhkan kesadaran literasi tanpa harus menunggu hobi membaca.
“Yang terpenting adalah ada kesadaran untuk belajar dan memahami banyak hal,” ujar Ali. Lapak baca di ruang publik memungkinkan siapa saja singgah, membaca buku, atau berdiskusi mengenai berbagai isu yang sedang berkembang.
Skhole: Konsep Ruang Belajar Terbuka
Aziz, salah satu pegiat literasi yang mendukung kegiatan ini, menjelaskan bahwa lapak baca mengikuti konsep skhole, yakni ruang luang untuk belajar dan bertukar pikiran secara terbuka.
Menurutnya, literasi tidak hanya membaca buku, tetapi juga memahami realitas sosial dan berani menyuarakannya secara kritis.
Beberapa buku dengan beragam tema—sastra, sosial, hingga pemikiran kritis—tersedia untuk pengunjung.
Pantauan Ipada Jumat sore (13/3/2026) menunjukkan sejumlah warga berhenti untuk melihat buku-buku yang dipajang, beberapa di antaranya ikut duduk dan berdiskusi menunggu waktu berbuka.
Harapan dan Rencana Berkelanjutan
Ali dan tim berencana mengadakan kegiatan serupa secara berkala, dengan tambahan diskusi ringan, berbagi pengalaman membaca, dan ruang dialog masyarakat.
Tujuannya, menjadikan ngabuburit bukan hanya momen menunggu berbuka, tetapi juga kesempatan menambah pengetahuan dan memperluas cara pandang.
“Kami ingin literasi terasa lebih dekat dan tidak selalu identik dengan ruang formal,” kata Ali. Meski lapak baca terlihat sederhana, semangat penggagasnya diharapkan menumbuhkan budaya literasi yang lebih luas di Payakumbuh.(*)
Editor : Hendra Efison