Masjid bersejarah yang berdiri sejak tahun 1567 ini berlokasi di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, dan tercatat sebagai masjid tertua di wilayah tersebut berdasarkan data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata per 4 Maret 2026.
Bangunan ini berada di dataran tinggi pada ketinggian sekitar 1.152 meter di atas permukaan laut. Lingkungannya dikelilingi aliran sungai kecil dengan air jernih, menambah suasana asri dan religius yang masih terjaga hingga kini.
Jejak Sejarah dan Tokoh Pendiri
Sejarah mencatat masjid ini didirikan oleh dua tokoh penyebar Islam, yakni Angku Masyhur dan Angku Labai. Keduanya dikenal memiliki suara merdu saat mengumandangkan azan.
Setelah wafat, Angku Masyhur dimakamkan di area mihrab, sedangkan Angku Labai dimakamkan di Jirek, lokasi ia biasa beribadah di luar bangunan utama.
Arsitektur Kayu tanpa Paku
Keunikan Masjid Tuo Kayu Jao terletak pada konstruksinya. Seluruh elemen bangunan—mulai dari dinding, plafon, lantai, hingga 30 tiang penyangga—dibuat dari kayu pilihan seperti jao, banio, dan medang. Atapnya berbentuk tumpang tiga yang dilapisi ijuk, dipisahkan hiasan ukiran terawang bermotif geometris khas Minangkabau.
Studi akademis tentang pengembangan wisata budaya menyebutkan bahwa konstruksi awal masjid menggunakan teknik pasak tanpa paku, ciri arsitektur Minangkabau-Islam. Dalam proses restorasi berikutnya, dilakukan penambahan paku untuk memperkuat struktur tanpa menghilangkan keaslian bentuknya.
Masjid ini juga memiliki tiang utama setinggi 15 meter di pusat bangunan serta 13 jendela dengan lebar sekitar 90 sentimeter. Fasilitas wudhu memanfaatkan sumber mata air alami di sisi kiri bangunan, sementara bedug ditempatkan di samping masjid.
Resmi jadi Cagar Budaya
Nilai sejarah dan arsitekturnya diakui pemerintah melalui penetapan sebagai cagar budaya pada 2011 berdasarkan SK Nomor PM.86/PW.007/MKP/2011. Kini, selain sebagai tempat ibadah, Masjid Tuo Kayu Jao juga berkembang menjadi destinasi wisata religi dan budaya yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
Baca Juga: Dinas Pertanian Kota Solok Panen 7 Kg Kangkung Hidroponik, Dijual Rp5.000 per Bungkus
Keberadaannya menjadi bukti ketahanan arsitektur tradisional Minangkabau yang mampu bertahan lebih dari empat abad di tengah perubahan zaman. (cr8)
Editor : Adetio Purtama