Di usia 63 tahun, ia masih menghabiskan waktu dari pukul delapan pagi hingga tengah malam menambal ban demi satu tujuan: memastikan anak bungsunya menyelesaikan pendidikan sebagai analis kimia.
Wajah Pak Tedi tampak ramah, namun guratan lelah tak bisa disembunyikan. Ketika ia menyeka keringat di siang yang terik, kisah panjang perjuangannya tersingkap.
Sebelum menjadi tukang tambal ban lima tahun lalu, ia mengaku pernah menempuh pekerjaan berat—dari anak buah kapal yang membawanya berlayar sampai Batam, hingga menjadi kuli bangunan yang mengandalkan tenaga sepenuhnya.
“Umur sudah tidak kuat lagi. Jadi ini pekerjaan terakhir yang bisa saya jalani,” ujarnya pelan kepada Padang Ekspres, pada Senin (17/11/2025).
“Biarlah saya yang susah. Yang penting anak bungsu saya bisa jadi analis kimia dan angkat derajat keluarga.”
Delapan anak telah ia besarkan bersama istrinya—empat laki-laki dan empat perempuan.
Kini, perjuangannya tertuju pada si bungsu berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Politeknik ATI Padang, kampus vokasi negeri di bawah Kementerian Perindustrian yang dikenal mencetak tenaga ahli sektor agro dan energi.
Pendapatan yang ia dapatkan dari tambal ban tak pernah besar. Dalam sehari, rata-rata hanya sekitar Rp60.000.
“Hanya cukup untuk makan,” ucapnya sambil menunjukkan kotak kecil tempat ia menyimpan uang hasil kerjanya. Namun tekadnya tak pernah goyah.
Keberuntungan kecil datang ketika ia tak lagi diminta membayar sewa tempat yang sebelumnya mencapai Rp500.000 per bulan. Sikap iba pemilik lokasi menjadi penyambung napas perjuangannya.
“Alhamdulillah, yang punya tempat kasihan sama saya. Tidak disuruh bayar lagi. Sangat membantu,” katanya.
Namun, tantangan baru menanti. Sang anak dalam waktu dekat akan memulai program magang di Jakarta.
Biaya transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup di ibu kota menjadi ganjalan yang membuat Pak Tedi harus berpikir lebih keras.
Sambil menambal setiap ban yang datang, ia menghitung-hitung kembali penghasilan dan mencari celah agar mimpi anaknya tidak berhenti di tengah jalan.
Di bengkel kecil yang diterangi lampu seadanya, Pak Tedi terus bekerja dengan kesabaran dan harapan.
Setiap ban yang kembali terisi udara, setiap kendaraan yang kembali melaju, menjadi simbol kecil dari upayanya menjaga mimpi besar seorang ayah—mimpi melihat anaknya berdiri sebagai analis kimia yang dibutuhkan industri agro.
Dari sudut Bandar Purus yang sederhana, kisah Pak Tedi mengalir sebagai gambaran keteguhan seorang ayah yang menjadikan kasih sebagai bahan bakarnya yang paling kuat.(CR3)
Editor : Hendra Efison