Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspada Panic Buying dan Spekulan

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Sudah menjadi siklus tahunan, tiap momen hari besar keagamaan, harga bahan pokok naik di pasaran. Terutama cabai dan bawang merah. Dua komoditi tidak bisa dilepaskan dari bumbu masakan masyarakat  Indonesia. Di Ranah Minang hampir semua masakan pakai cabai. Belum berasa makan kalau tidak ada cabai. Makanya kalau harga cabai naik, masyarakat langsung menjerit.

Sejak pekan lalu harga cabai dan bawang di pasar-pasar tradisional di Sumbar sudah merangkak naik. Di Pasar Raya Padang, contohnya. Minggu (17/5)  harga cabai jawa berada di kisaran Rp 50 ribu per kilogram. Sementara cabai darek atau cabai lokal Rp 37 ribu per kilogram. Bawang merah mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Sebelumnya masih berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram.

Kondisi rawan terjadi panic buying. Khawatir harga bakal naik lagi, masyarakat memborong untuk stok. Apalagi sebentar lagi Lebaran Haji, kenaikan harga bahan pokok tersebut tak terelakkan. Masyarakat yang mendapat daging kurban butuh bumbu-bumbu seperti bawang, cabai, minyak goreng dan lainnya untuk membuat beragam masakan. Walaupun mahal tetap dibeli. Aksi borong ini makin membuat stok barang jadi berkurang, Kondisi ini juga rawan menyebabkan inflasi tinggi. Selain panic buying, aksi spekulan yang menimbum barang patut diawasi. Mereka menyebabkan barang menjadi langka. Setelah masyarakat menjerit mereka melepas barang dengan harga tinggi demi keuntungan pribadi.

Advertisement

Sementara, penyebab utama kenaikan harga dua komoditas ini karena kondisi cuaca di Sumbar yang tidak menentu. Belakangan sering hujan dan mimicu bencana di sejumlah daerah. Cuaca ekstrem seperti ini menyebabkan panen petani seperti cabai jadi terganggu.  Gagal panen. Buah cabai jadi busuk dan batangnya layu dan akhirnya mati. Padahal baru beberapa kali panen.

Pasokan cabai dari luar Sumbar juga berkurang. Selain kendala distribusi kemungkinan panen raya petani di Jawa sudah mulai berakhir. Sedangkan bawang merah, umumnya berasal dari petani lokal Sumbar yakni dari Alahanpanjang, Kabupaten Solok.  Berkurangnya pasokan bawang merah ke pasar lokal ditengarai juga karena berkurangnya hasil panen petani. Faktor cuaca juga menyebabkan tanaman bawang kurang berkembang. Sudahlah produksi berkurang, bawang merah juga dijual ke luar Sumbar seperti ke Riau, Jambi dan provinsi lain.

Pemerintah tak bisa melarang petani menjual hasil panennya untuk diperdagangkan di mana saja. Bagi petani, kalau ada untung barang dilepas. Apalagi kalau harga tinggi tak ada alasan untuk menahan barang. Nah, untuk dua komoditi ini sebenarnya pemerintah bisa juga intervensi. Caranya sebelum panen belilah komoditi itu dengan harga yang pantas. Nanti saat harga naik di pasaran, pemerintah bisa intervensi dan melepas komoditi tersebut ke pasaran.

Advertisement

Selain itu, melakukan pembinaan berkesinambungan kepada petani dua komoditi tersebut. Mulai menentukan waktu yang baik untuk bercocok tanam, pemberian bantuan modal, bibit unggul yang tahan cuaca ekstrem dan hama hingga konsisten dalam pengadaan pupuk. Harga pupuk yang terjangkau serta stok yang cukup sangat menentukan berhasil tidaknya petani dalam bercocok tanam. (*) 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Objektifikasi Bukan Gurauan

Objektifikasi Bukan Gurauan

MUNCUL lagi kasus kekerasan seksual verbal di kampus negeri. Para pelaku punya grup WhatsApp yang mengumbar objektifikasi kepada 22 mahasiswi

Wajib Pajak Serasa Diteror

Wajib Pajak Serasa Diteror

WARGA Indonesia tidak akan bisa tidur nyenyak apabila tak membayar pajak. Petugas pajak kini mengejar wajib pajak sampai ke pintu rumah.

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

WALAU diwarnai hujan kritik dan polemik, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)  tetap melaju.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer