Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pencarian Ruang Ketiga dan Membangun Relasi

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

KEHADIRAN generasi digital native turut berpengaruh besar terhadap cara manusia membangun relasi. Dinamika itu melahirkan tren baru yang kini tumbuh pesat. Yakni, beraktivitas dengan orang yang belum dikenal.

Kini bermunculan acara seperti dating with stranger, running with stranger, atau playing with stranger. Mereka berani bertemu karena menemukan kecocokan minat melalui media sosial dan kanal digital lainnya.

Pertemuan antar-orang tidak di­ke­nal itu biasanya diawali dengan sebuah acara yang dihelat event organizer. Me­reka menyediakan tempat yang mempertemukan orang-orang yang be­lum sa­ling kenal. Konsep acara di­kem­ba­ngkan dari hobi-hobi yang saat ini naik daun. Mulai olahraga lari, hyrox, pa­del, tenis, hingga permainan tradisional.

Advertisement

Tren tersebut bukan semata dibaca sebagai wadah bagi digital native yang kerap dicap antisosial untuk bertemu. Fenomena itu merupakan bentuk fase lanjutan dari kecocokan yang “disepakati” dalam komunikasi via ranah digital sebelumnya.

Forum itu juga menjadi wadah bagi orang-orang yang membutuhkan durasi komunikasi lebih panjang, santai, tetapi tetap substansial. Sebab, pembicaraan di media sosial kerap pendek dan berlangsung singkat. Bertemu langsung juga mengurangi risiko ghosting ketika lawan bicara via jalur online tiba-tiba kabur dari sesi dialog.

Tumbuhnya aktivitas bersama orang tak dikenal juga dapat dibaca sebagai kebutuhan ruang “ketiga” selain rumah atau kampus/tempat kerja. Dua ruang tersebut kerap tidak se­penuhnya memenuhi kebutuhan seseorang untuk membangun relasi sosial yang lebih luas. Untuk itulah dicari tempat “ketiga” yang menawarkan model relasi lebih cair dengan bertemu orang baru dengan minat serupa.

Advertisement

Namun, tren tersebut harus diba­rengi kewaspadaan dalam menyeleksi acara. Jangan sampai forum membangun relasi dengan cara yang seru itu membuka celah tindak kejahatan. Yang paling berisiko adalah penipuan atau tindak kekerasan lainnya.

Perhatikan juga reputasi penyelenggara dengan melihat rekam jejak di media massa dan media sosial. Hal lain yang harus diperhatikan adalah lokasi. Pastikan venue merupakan tempat terbuka, ramai, dan jelas akses keluar-masuk. Pastikan pihak penyelenggara juga mengawasi secara intens selama acara berlangsung. (*)

 

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Objektifikasi Bukan Gurauan

Objektifikasi Bukan Gurauan

MUNCUL lagi kasus kekerasan seksual verbal di kampus negeri. Para pelaku punya grup WhatsApp yang mengumbar objektifikasi kepada 22 mahasiswi

Wajib Pajak Serasa Diteror

Wajib Pajak Serasa Diteror

WARGA Indonesia tidak akan bisa tidur nyenyak apabila tak membayar pajak. Petugas pajak kini mengejar wajib pajak sampai ke pintu rumah.

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

WALAU diwarnai hujan kritik dan polemik, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)  tetap melaju.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer