
SEJAK Terminal Angkot Goan Hoat berubah menjadi pusat perdagangan pada awal tahun 2000-an, angkot di Padang tidak lagi memiliki tempat ngetem yang memadai. Akibatnya, sejumlah titik menjelma menjadi "terminal" dadakan atau terminal bayangan.
Repotnya, ibu-ibu yang berbelanja ke Pasar Raya terkadang harus berjalan kaki cukup jauh sambil menenteng barang belanjaan untuk mencari angkot jurusan ke rumah mereka.
Angkot yang ngetem di pinggir jalan sambil menunggu penumpang sering mengganggu arus lalu lintas. Kondisi ini menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan. Namun, apa mau dikata, terminal yang layak memang tidak ada lagi.
Padahal, jika Terminal Angkot Goan Hoat tidak digusur, tentu hingga kini masih dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, keadaan tidak bisa kembali ke masa lalu.
Lalu, saat gempa besar tahun 2009, bangunan kantor wali kota yang berada di samping kantor lama peninggalan Belanda roboh dan rata dengan tanah.
Di lahan bekas bangunan tersebut kemudian dibangun terminal angkot sementara untuk jurusan Pegambiran, Mata Air, Teluk Bayur, dan sekitarnya.
Tujuannya untuk mengurangi jumlah angkot yang ngetem di pinggir jalan. Namun, upaya itu tidak bertahan lama.
Angkot kembali menunggu penumpang di badan jalan. Alasannya, terminal sementara tersebut sulit mendapatkan penumpang.
Calon penumpang juga enggan menuju lokasi terminal, meskipun jaraknya tidak jauh dari pasar sayur. Mungkin kebiasaan menunggu angkot di pinggir jalan memang sulit diubah.
Tak lama kemudian, terminal sementara itu ditinggalkan. Tidak ada lagi angkot yang ngetem di sana. Terminal di Kota Padang pun kembali sepenuhnya berada di jalan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

