Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Politik Dinasti dan Celah Estafet Korupsi

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

KORUPSI selama ini sering dipahami sebagai dosa individu. Ada pejabat tamak. Ada bawahan yang ikut bermain. Lalu, penegak hukum datang menangkap pelakunya.

Namun, kasus di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, memperlihatkan pola yang lebih dalam. Korupsi ternyata dapat diwariskan.

Itulah yang terungkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Sukoharjo Etik Suryani oleh KPK, Kamis (9/7). Komisi antirasuah menetapkan Etik sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan terhadap aparatur sipil negara (ASN) karena telah menjalankan mekanisme “setoran upah pungut” dengan sejumlah kode perintah.

Advertisement

Pemerasan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan sejak masa pemerintahan bupati Sukoharjo sebelumnya (2010–2021), Wardoyo Wijaya, yang merupakan suami Etik.

Praktik lancung tersebut tidak terjadi karena modus sesaat. Ia telah dirancang dan dikendalikan. Ada kode, jalur distribusi, pengumpul, penyetor, hingga penerima. Korupsi sudah menjadi prosedur, bukan lagi penyimpangan.

Temuan KPK itu menunjukkan pola yang sama dengan praktik pemerintahan sebelumnya. Jika dugaan itu terbukti, berarti korupsi tidak berhenti ketika pemimpinnya berganti. Ia justru diwariskan.

Advertisement

Kasus itu juga membuka perdebatan lama mengenai dinasti politik. Memang, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap dinasti politik pasti korup. Masih banyak dinasti kekuasaan yang menjalankan pemerintahan dengan bersih. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa ada risiko lebih besar ketika kekuasaan terkonsentrasi pada lingkaran keluarga yang sama.

Pergantian pemimpin belum tentu berarti pergantian sistem. Jaringan birokrasi masih sama. Orang-orang kepercayaan tetap menduduki posisi strategis. Budaya organisasi tetap dipertahankan.

Karena itu, memberantas korupsi tidak boleh berhenti pada penangkapan. OTT hanyalah ibarat memutus satu ranting, sedangkan akarnya tetap tertanam.

Yang harus dibongkar adalah ekosistem yang memungkinkan estafet korupsi terus berlangsung. Pemerintah perlu memperkuat sistem merit agar promosi dan mutasi ASN tidak ditentukan oleh kedekatan politik, tetapi berdasar prestasi.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Objektifikasi Bukan Gurauan

Objektifikasi Bukan Gurauan

MUNCUL lagi kasus kekerasan seksual verbal di kampus negeri. Para pelaku punya grup WhatsApp yang mengumbar objektifikasi kepada 22 mahasiswi

Wajib Pajak Serasa Diteror

Wajib Pajak Serasa Diteror

WARGA Indonesia tidak akan bisa tidur nyenyak apabila tak membayar pajak. Petugas pajak kini mengejar wajib pajak sampai ke pintu rumah.

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

Koperasi Merah Putih jadi Penyalur Bansos

WALAU diwarnai hujan kritik dan polemik, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)  tetap melaju.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer