Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pertama di Indonesia, Psychosurgery Melawan Skizofrenia

j
Penulis: jpg❯
Dari kiri, Dr. Heri Subianto, Sp.BS.,Subsp.FN(K), DR. Ahmad Fahmi, dr., Sp.BS.,Subsp.FN(K), Dr. Vega Pangaribuan dalam psychosurgery di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (22/4). (DOK RSUD DR. SOETOMO)
Dari kiri, Dr. Heri Subianto, Sp.BS.,Subsp.FN(K), DR. Ahmad Fahmi, dr., Sp.BS.,Subsp.FN(K), Dr. Vega Pangaribuan dalam psychosurgery di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (22/4). (DOK RSUD DR. SOETOMO)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Rabu (22/4) lalu menjadi hari panjang sekaligus bersejarah di ruang operasi RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Sejak pagi hingga malam, dua pasien kakak beradik asal Malang, Jawa Timur, YA dan NI, menjalani prosedur yang belum pernah dilakukan di Indonesia: psychosurgery.

YA, pria 30 tahun, telah hidup dengan skizofrenia sejak usia 13 tahun. Hampir 17 tahun dia bergulat dengan halusinasi dan ledakan emosi yang tak terkendali.
Tiga tahun setelahnya, sang adik, NI, perempuan 27 tahun, menyusul dengan kondisi serupa. Lebih dari satu dekade hidup dalam bayang-bayang suara-suara yang terus menghantui.

Bagi dr Azimatul Karimah SpKJ (K), angka-angka itu bukan sekadar data medis. Itu penanda panjangnya terapi yang sudah pernah dijalani kedua pasien tersebut.
“Pasien ini sudah mendapatkan terapi obat dan terapi elektrokonvulsi, tetapi gejalanya masih dominan,” ujar dokter penanggung jawab pasien tersebut di Surabaya kemarin (23/4).

Advertisement

Kondisi YA bahkan telah menggerus kemandiriannya. Aktivitas dasar seperti mandi dan makan harus dibantu, sementara kemampuan berbicara sangat terbatas. Halusinasi visual yang dialami sering memicu amarah mendadak, tak jarang berujung pada tindakan agresif.

“Kemampuan verbalnya menurun dan perilaku agresif masih sering muncul,” jelasnya.

NI menghadapi tekanan yang berbeda. Dia terus mendengar suara-suara yang menghina dan merendahkan, membuat emosinya naik turun tanpa kendali. Di satu sisi dia sadar dengan kondisinya, namun di sisi lain tak mampu menahan ledakan perasaan yang datang tiba-tiba.

Advertisement

Di rumah, kondisi itu memaksa orang tua mengambil langkah ekstrem. YA dan NI harus dipisahkan ruang hidupnya agar tidak saling melukai. Perawatan pun terbagi: ayah mendampingi YA, ibu merawat NI.

Situasi itu berlangsung bertahun-tahun tanpa perubahan berarti. Di titik itulah, opsi psychosurgery mulai dipertimbangkan.

Asesmen Mulai Februari

Namun, keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Sejak Februari 2026, tim memulai asesmen berlapis untuk memastikan bahwa kedua pasien benar-benar masuk kategori skizofrenia resisten terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi MRI (magnetic resonance imaging) otak, tes psikologis, hingga evaluasi fungsi kognitif. Hasilnya tidak langsung bermuara pada keputusan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rakor Kesehatan Pariaman Bahas TBC, Malaria hingga Rendahnya Skrining Kanker Serviks

Rakor Kesehatan Pariaman Bahas TBC, Malaria hingga Rendahnya Skrining Kanker Serviks

Pemko Pariaman membahas TBC, malaria, KLB, imunisasi, dan skrining kanker serviks dalam Rakor Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2026.

Saat Tubuh Berteriak Lewat Burnout

Saat Tubuh Berteriak Lewat Burnout

DI tengah kehidupan yang terus berpacu dengan waktu, burnout menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin banyak dialami masyarakat.

Vitamin A, Pendekar Tubuh

Vitamin A, Pendekar Tubuh

VITAMIN A dikenal sebagai salah satu zat gizi penting yang berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer