Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intervensi Belum Perkuat Rupiah, Belanja Negara Melonjak

j
Penulis: jpg❯
Uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, kemarin (5/5). Rupiah ditutup melemah 40 poin ke level Rp 17.434 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.394. (ASPRILLA DWI ADHA/ANTARA FOTO)
Uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, kemarin (5/5). Rupiah ditutup melemah 40 poin ke level Rp 17.434 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.394. (ASPRILLA DWI ADHA/ANTARA FOTO)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Tekanan rupiah belum reda. Nilai tukar kembali tembus level psikologis Rp 17.400 per dolar AS. Faktornya kombinasi gejolak global dan kebutuhan valas tinggi di domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, otoritas moneter tetap aktif di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. “Pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang negara berkembang lainnya sejak konflik di Timur Tengah memanas,” kemarin (5/5).

Data BI menunjukkan, sejumlah mata uang juga mengalami tekanan. Peso Filipina melemah 6,58 persen, baht Thailand 5,04 persen, rupee India 4,32 persen, peso Cile 4,24 persen, dan won Korsel 2,29 persen. Rupiah sendiri turun 3,65 persen.

Advertisement

Untuk meredam volatilitas, BI mengoptimalkan intervensi melalui berbagai instrumen, mulai dari non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, hingga domestic non-deliverable forward (DNDF). Pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder juga dilakukan guna menjaga stabilitas pasar keuangan. “BI akan terus hadir di pasar secara konsisten dan terukur,” imbuhnya.

Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup melemah 40 poin ke level Rp17.434 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.394 kemarin (5/5). Sepanjang hari, tekanan bahkan sempat mencapai 45 poin.

Dia menilai pelemahan dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz menjadi sentimen utama.

Advertisement

 Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi. Sehingga, lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi global dan mempertahankan suku bunga tinggi, terutama oleh Federal Reserve. Dampaknya, arus modal global cenderung kembali ke aset dolar AS.

Dari domestik, tekanan datang dari tingginya kebutuhan USD untuk impor energi. Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, sehingga kenaikan harga minyak langsung meningkatkan permintaan valas.

“Efeknya berantai. Rupiah melemah, harga energi naik, lalu harga barang ikut terdorong,” ujarnya.

 

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pengusaha Tahu di Sawahlunto Khawatir Tak Bertahan, Harga Kedelai Melonjak akibat Rupiah Melemah

Pengusaha Tahu di Sawahlunto Khawatir Tak Bertahan, Harga Kedelai Melonjak akibat Rupiah Melemah

Pengusaha tahu di Sawahlunto mengeluhkan lonjakan harga kedelai impor akibat pelemahan rupiah dan khawatir usahanya sulit bertahan ke depan.

Pelemahan Rupiah Berdampak hingga ke Desa

Pelemahan Rupiah Berdampak hingga ke Desa

Program KABA PADEK Sore edisi Rabu (3/6) menghadirkan Direktur Utama Padang Ekspres, Mhd. Nazir Fahmi, sebagai narasumber.

Rupiah Dekati Rp 17.800 per Dolar AS, Pemerintah Belum Ubah Asumsi APBN

Rupiah Dekati Rp 17.800 per Dolar AS, Pemerintah Belum Ubah Asumsi APBN

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) belum dianggap mengkhawatirkan pemerintah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer